RADIUS

Fri Oct 15 2021 02:07:18 GMT+0000 (UTC)

#General

Sang Maestro Spiritual Entrepreneur

Jauh sebelum diangkat menjadi Rasul, Nabi Muhammad SAW telah ditempa sebagai seorang entrepreneur

Perdagangan di pasar zaman dahulu, bukan merupakan bangunan pasar seperti saat ini. (ist)

Freedae

Refleksi Maulid Nabi SAW

Oleh : Dr. Rosidin, M.Pd.I

(Dosen Pascasarjana STAI Ma’had Aly Al-Hikam)


NABI Muhammad SAW memiliki dua sisi kehidupan yang sama-sama berharga, yaitu kehidupan sebelum dan setelah diangkat menjadi Rasul. Jauh sebelum diangkat menjadi Rasul, Nabi SAW telah ditempa sebagai seorang entrepreneur (wirausahawan).

Pada masa pengasuhan Abu Thalib, Nabi SAW ditempa sebagai penggembala ternak, kemudian mulai belajar berdagang dan menunjukkan keandalan sebagai calon pengusaha. Sayangnya, secara sadar atau tidak, umat muslim terkadang melupakan bahwa Nabi SAW adalah seorang businessman (pedagang) sukses pada masanya. Dampaknya, untuk memberi motivasi generasi umat muslim di bidang ekonomi dan kewirausahaan, nama-nama yang selalu menjadi top list adalah Elon Musk, Jeff Bezos, Bernard Arnault, Mark Zuckerberg, Bill Gates, dan kawan-kawannya.

Fenomena pahit ini terjadi karena umumnya umat muslim menyempitkan pribadi beliau sebagai pemimpin religius belaka. Oleh sebab itu, periode sebelum Nabi SAW diangkat menjadi Rasul merupakan rentang waktu yang paling tepat untuk menilai profil kesuksesan Nabi SAW sebagai seorang spiritual entrepreneur.

Di samping faktor Ilahi yang menyebutkan bahwa Allah SWT telah mengangkat Nabi SAW dari jurang kemiskinan menuju kesejahteraan ekonomi (Q.S. al-Dhuha [93]: 8), faktor insani yang melatar-belakangi kesuksesan beliau sebagai entrepreneur terdiri dari faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal meliputi keluarga dan masyarakat Quraisy.

Pertama, Nabi SAW mendapatkan dukungan penuh dari keluarga. Dalam hal ini, paman beliau, Abu Thalib sudah menaruh kepercayaan yang tinggi kepada Nabi SAW sejak belia. Terbukti, Nabi SAW diminta untuk menggembalakan ternak miliknya. Ketika berusia 12 tahun, Nabi SAW diajak ikut berdagang ke Syam (Suriah); bahkan mulai dipercaya untuk melakukan perdagangan sendiri ketika beliau berusia 17 tahun. Abu Thalib pun senantiasa menunjukkan sikap ramah, demokratis (tidak otoriter), bahkan mencintai Nabi SAW melebihi putera-puterinya sendiri.

Kedua, Kondisi perekonomian keluarga Abu Thalib yang pas-pasan, sedangkan Nabi SAW tinggal bersama sang paman. Kondisi ini memberi motivasi ekstra kepada Nabi SAW untuk membantu kondisi perekonomian keluarga. Selain itu, Nabi SAW hidup di tengah-tengah masyarakat Quraisy yang terkenal memiliki karakter ’tahan banting’ dan gemar mengembara, terutama untuk berdagang; sampai-sampai diabadikan oleh al-Qur’an dalam Surat Quraisy.

Pedagang di zaman Nabi SAW harus menempuh perjalanan panjang untuk sampai ke pusat perdagangan. (sutterstock)

Faktor geografis Kota Makkah sebagai daerah gersang, membuat sektor agraris tidak mungkin berkembang. Oleh sebab itu, profesi yang dikembangkan adalah perdagangan dan sedikit peternakan. Dari sinilah, Nabi SAW menetapkan visi dan misi hidup beliau sebagai pedagang atau entrepreneur.

Sedangkan faktor internal meliputi karakteristik pribadi beliau. Pada diri Nabi SAW, terdapat ciri-ciri orang yang memiliki kebutuhan berprestasi (Need of Achievement) dalam kadar tinggi, sehingga menunjang keberhasilan beliau sebagai entrepreneur.

Pertama, rajin bekerja keras. Argumentasinya, ekspedisi dagang pertama Nabi SAW bersama sang paman, sungguh perjalanan dagang yang tidak mudah, karena menempuh jarak ribuan kilometer dari Makkah. Inilah tonggak penting bagi karier Nabi SAW sebagai entrepreneur. Aktivitas bisnis Nabi SAW ini dimulai sejak usia 17 tahun yang kemudian melahirkan karakter wirausaha yang kental.

Sosok beliau sangat bersahaja, tetapi di dalam diri beliau terdapat semangat sekuat baja. Jika kita pernah berkunjung langsung ke Makkah, maka kita lihat medan bisnis yang dilalui oleh Nabi SAW sungguh luar biasa berat; bahkan untuk ukuran kita saat ini. Akan tetapi, Nabi SAW melakukan perjalanan dagang berkali-kali dengan medan perjalanan yang sangat berbahaya dan berat tersebut. Hal ini sudah cukup untuk menunjukkan seberapa hebat tekad dan kerja keras seorang pebisnis seperti Nabi SAW.

Kedua, kalau mengerjakan sesuatu, ingin berhasil dengan sebaik-baiknya. Sebagai bukti, Nabi SAW membangun personal branding yang sangat penting dalam bisnis, yaitu al-Amin (orang yang dapat dipercaya). Sifat al-Amin ini juga melekat saat beliau sedang berdagang, sehingga mengundang simpati banyak orang.

Selain itu, Mustahil Nabi SAW tidak memahami marketing. Buktinya, Nabi SAW membeli sendiri barang-barang dagangan di pasar dan mencermati kebutuhan masyarakat di wilayah yang akan beliau singgahi. Nabi SAW berkeliling memperluas jangkauan pasar dagangan, mengikuti berbagai bazar dan pameran (seperti di Yaman, Basrah, Iraq, Yordania dan Bahrain), membina hubungan baik antar sesama pedagang (kompetitor) dan meluaskan jaringan bisnisnya (network).

Kecemerlangan bisnis Nabi SAW mencapai puncaknya hingga beliau berusia 20 tahun. Jelas sekali Nabi SAW selalu melakukan hal-hal terbaik dalam praktik perdagangan, sehingga terkenal sebagai pedagang yang barang dagangannya paling laris dan cepat laku.

Ketiga, merasa lebih puas dengan hasil kerja yang baik dibandingkan upah yang diterima dari pekerjaan itu. Misalnya, Nabi SAW menjalani misi dagang besar melalui jalur utama Yaman-Syam. Nabi SAW berjualan di Pasar Basrah dan memperoleh untung hampir dua kali lipat dibandingkan pedagang lain.

Kenyataan ini mengundang decak kagum Khadijah, sehingga Nabi SAW dipercaya memimpin ekspedisi dagang Khadijah hingga lima kali dari Yaman ke Syam, bahkan ada yang diikuti oleh pembantu setianya, yaitu seorang laki-laki bernama Maisarah. Kelak, Maisarah inilah yang memberi informasi berharga tentang pribadi Nabi SAW yang membuat Sayyidah Khadijah jatuh hati.

Dengan demikian, kehebatan Nabi SAW tidak sekadar keterampilan berdagang, melainkan akhlak terpuji yang senantiasa ditunjukkan oleh Nabi SAW kapan pun dan di mana pun. Antara lain:

1. Integritas. Yaitu kejujuran yang mengikat karakter-karakter terpuji lainnya;

2. Loyalitas yang menguatkan kepercayaan banyak orang, sehingga menumbuhkan kesetiaan dan komitmen jangka panjang;

3. Profesional melalui pelaksanaan suatu profesi dengan kualitas terbaik;

4. Spiritualitas yang terbangun lebih kuat saat Nabi SAW menikah dengan Sayyidah Khadijah, sehingga beliau lebih banyak berkontemplasi (tahannuts), sebelum akhirnya mendapatkan bimbingan wahyu Ilahi.

Pasar di zaman dahulu berada di lokasi padat penduduk. (ist)

Keempat, selalu ingin berbuat lebih banyak, melebihi apa yang pernah dibuat. Sebagai gambaran, berita perilaku bisnis Nabi SAW cepat tersebar di Makkah, bahkan di seantero negeri yang beliau singgahi. Nabi SAW menjadi magnet bagi orang-orang kaya dan pemilik modal. Lalu, datanglah berbagai tawaran dari para investor (shahibul mal) kepada beliau untuk mengelola dana mereka dengan sistem mudharabah (pemodalan). Ada kalanya Nabi SAW mendapatkan upah tertentu (fee based) ataupun bagi hasil (profit sharing) sebagai pengelola (manajer atau mudharib). Kekayaan beliau cepat bertumbuh dan berkembang, karena didorong oleh etiket bisnis yang beliau terapkan, seperti kejujuran, keteguhan memegang janji serta empati terhadap para pelanggan (customer).

Sayyidah Khadijah merupakan contoh investor yang tertarik merekrut Nabi SAW, karena saat itu sedang membuka lowongan untuk manajer bagi tim ekspedisi dagangnya ke Syam. Khadijah menawarkan upah dua ekor unta. Nabi SAW melalui Abu Thalib, menawar upah itu hingga empat ekor unta. Khadijah yang telah mendengar keandalan dan kejujuran Nabi SAW, setuju dengan penawaran itu. Sebuah pelajaran penting di sini adalah terjadinya negoisasi tersebut dikarenakan Nabi SAW memiliki bargaining position (posisi tawar) yang tinggi. Kembali bukti tersaji bahwa Nabi SAW selalu melakukan peningkatan kualitas pekerjaan, sehingga memiliki bargaining power yang begitu tinggi.

Pada akhirnya, secuil bukti nyata kesuksesan Nabi SAW sebagai entrepreneur adalah jumlah mahar yang beliau berikan kepada Sayyidah Khadijah. Menurut satu riwayat, 20 ekor unta; dan menurut riwayat lain, 400 dinar. Jika 1 dinar setara dengan 4.25 gram emas; maka 400 dinar setara dengan 1.700 gram emas. Jika harga 1 gram emas hari ini adalah Rp928k, maka total mahar beliau adalah mencapai Rp1.5 miliar.

Editor : chusnun hadi