RADIUS

Mon Oct 04 2021 03:27:52 GMT+0000 (UTC)

#Travel

Menunggu Hasil Akhir Kajoetangan Heritage

Jika pembangunannya tidak dilakukan secara profesional, justru warisan budaya itu akan pudar

Kawasan warisan budaya Kayutangan diharapkan penataannya selesai total pada akhir tahun 2021. (dra)

Malang-Radius – Menggarap kawasan Kajoetangan (Kayutangan) agar menjadi ikon wisata warisan budaya adalah cita-cita mulia. Tetapi jika pembangunannya tidak dilakukan secara profesional, justru warisan budaya itu akan pudar. Warga menunggu hasil akhirnya seperti apa.

Pra pembangunan dan penataan kawasan Heritage Kayutangan juga dilakukan sejak jauh hari. Agar penataan kawasan heritage secara umum bisa terarah, digelarlah Internasional Conference of Heritage and Culture in the Integrated Urban Context 2019 (HUNIAN 2019) pada tanggal 24 Oktober 2019. Panitianya adalah Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Malang.

Mengutuip prasetyaonline, Konferensi internasional ini diharapkan ada pemikiran keilmuwan dari para pemangku kepentingan yang terlibat dalam pengembangan, konservasi, dan pengelolaan kota-kota bersejarah. Bahkan penelitian juga dilakukan, dan hasilnya memang kawasan Kayutangan layak dihidupkan kembali sebagai ikon wisata warisan budaya. Sekaligus menjadi Malang Heritage Destination.

Di beberapa trotoar dipasang kursi dengan tema tempo doeloe. (dra)

Walikota Malang Sutiaji saat itu juga sudah mendeklarasikan kawasan Kayutangan akan menjadi ibukota cagar budaya. Dalam pernyataannya, kawasan itu nantinya akan jadi satu jalur, full jaringan WiFi, dibangun kafe dan hiburan. Juga pejalan kaki mendapat prioritas, trotoar dijadikan jalur satu arah, semua transaksi di kawasan ini menggunakan uang elektronik dan lain-lain.

Sebagai pembicara juga hadir dari beberapa negara, seperti Prof. Julaihi Wahid dari Universiti Sarawak Malaysia, Prof. Johanes Widodo dari National University Singapura, Prof. Shinji Ikaruga dari Yamaguchi University Jepang, dan Prof. Ulrike Brig dari TU Wien Swedia.

Dua tahu berselang. Lantas bagaimana kabar Kayutangan saat ini? Tim Radius turun ke lapangan, berjalan dari sudut ke sudut. Saat ini, tidak terlihat lagi pekerja membangun kawasan ini. Padahal harusnya Agustus 2021 diresmikan secara menyeluruh. Apakah memang pembangunannya sudah selesai, atau jeda sejenak karena Covid-19?

Tahun 2020 lalu, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono menggelar program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku). Program ini merupakan kolaborasi antara Kementerian PUPR dan Pemerintah Daerah untuk mendorong dan memberdayakan warga setempat sebagai pelaku pembangunan.

Kawasan Kauman di Kota Malang, dipilih karena memiliki potensi meningkatkan pariwisata, “Di sini bukan sekedar kawasan kumuh, tetapi memiliki nilai heritage serta potensi untuk meningkatkan pariwisata di Kota Malang,” kata Kepala Balai Prasarana Pemukiman Wilayah (BPPW) Jawa Timur, Muhammad Reva Sastrodiningrat mengutip Kompas.com.

Tempat penanaman pohon telah dibangun tetapi belum ditanami. (dra)

Proyek revitalisasi Kajoetangan Heritage ini bersumber dari anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) tahun 2020 senilai Rp 23 Miliar. Proyek ini dipercayakan pada kontraktor PT Widya Satria melalui skema tahun jamak dan pelaksanaan proyek dalam durasi 23 April 2020 hingga 01 April 2021.

Penataan kawasan ini meliputi pekerjaan jalan paving dan ampyang sepanjang 2052,19 meter dan pekerjaan batu andesit di koridor 1 tepatnya di pertigaan PLN Kayutangan, dan koridor 2 tepatnya di perempatan Raja Bali dengan total sepanjang 2.402.71 meter persegi.

Dilanjutkan pekerjaan drainase sepanjang 3.016,7 meter, pekerjaan arsitektur seperti gapura, pergola, lansekap taman air vertical garden, pekerjaan mekanikal elektrikal dan plumbing (MEP), serta proteksi kebakaran.

Video perencanaan tata wilayah kota juga beredar di Youtube. Video yang sudah dilihat lebih dari 1.900 orang ini menunjukkan bagaimana desain Kajoetangan Heritage, zona kawasan koridor satu Kayutangan meliputi toko Avia, Lonceng Kota, PLN dan MC Donalds. Akan ada jalur pedestrian yang nyaman dengan penataan elemen street furniture bernuansa tempo dulu. Suasana heritage semakin kuat dengan melakukan penataan ulang bangunan dan melepas cover-cover yang ada sekarang, dan melakukan pengecatan ulang dengan warna sesuai tempo dulu.

Zona kawasan koridor dua meliputi perempatan Raja Bali dan Bank BCA. Selain melebarkan jalur pejalan kaki, penataan juga dilakukan pada tiang listrik dan kabel PLN dengan membuat jalur kabel underground (bawah tanah). Melakukan perbaikan fasilitas Penerangan Jalan Umum (PJU) pada pedestrian dan penataan pohon di area koridor.

Muhammad Reva Sastrodiningrat

Selanjutnya zona kawasan koridor tiga yang menuju arah Gereja Katredal. Melakukan pengecatan ulang jembatan penyebrangan jalan, menghadirkan beberapa spot swafoto, serta menata ulang monumen Chairil Anwar.

Setelah proses revitalisasi koridor 1 dan koridor 2 rampung pada 21 Desember 2020, akhirnya akses Kawasan Kajoetangan Heritage dibuka. Namun, banyak warga yang kecewa atas pembangunan proyek tersebut. Ekspetasi warga terlalu tinggi, karena wacana pemerintah menjadikan tempat tersebut sebagai ikon wisata lebih tinggi dari kawasan Braga di Bandung dan Malioboro di Yogyakarta.

Kekecewaan warga ungkapkan melalui sosial media. Kritik saat itu mulai dari paving yang dipasang bentuknya biasa aja, tanpa motif yang menarik. Tak ubahnya memasang paving di perumahan. Walikota langsung menjelaskan bahwa Kayutangan memang belum selesai total. Masih ada pembangunan koridor selanjutnya, dan pembangunannya didanai APBD Kota Malang.

Berdasarkan pengamatan tim Radius di lapangan, tidak tampak ada kesibukan orang-orang yang menata ulang kawasan tersebut. Bulan Agustus 2021 sudah lewat. Dan revisi target menjadi akhir Tahun 2021. Sehingga awal tahun 2022 benar-benar selesai dan bisa dimanfaatkan warga serta para penikmat wisata warisan budaya.

Karena tak kunjung selesai, tentu saja memantik komentar warga. “Mbangun-Mbangun tok ae, tambah nggak karu-karuan ini, ndak tau mau jadi apa, nggak jelas,” ucap Abdullah, salah seorang juru parkir di kawasan Heritage Kajoetangan, kepada Radius.

Abdullah hafal betul lokasi tersebut, karena sudah 28 tahun menggeluti jukir di kawasan Kayutangan. Pria paruh baya ini juga mengatakan bahwa kawasan tersebut tidak cocok untuk tempat wisata. Sebab jalan kurang lebar, dan lahan trotoar kurang luas. “Jalannya sempit, kalau satu arah dibuang ke kiri macet dibuang ke kanan juga macet,” ucapnya.

Kajoetangan Heritage berada di Jantung Kota Malang, memiliki ragam bangunan tua dari zaman Kolonial Belanda yang masih terjaga keasliannya. Lokasinya berada di sepanjang jalan Jenderal Basuki Rahmat, Jalan Jaksa Agung Suprapto, dan Jalan Brigjen Slamet Riyadi.

Terdapat 22 bangunan warisan budaya yang dilestarikan dan masih berfungsi sebagai hunian sekaligus tempat usaha di kawasan ini, salah satunya yang terkenal hingga saat ini yaitu Toko Oen dan berhadapan langsung dengan Gereja Katolik Hati Kudus Yesus atau yang dikenal dengan nama Gereja Kayutangan. Ada juga peninggalan Bioskop Merdeka dan toko mainan di ujung perempatan Raja Bali yang kini tinggal kenangan.

Kawasan ini terdapat struktur cagar budaya yang dibangun sejak 1870 hingga 1920 dan masih berdiri kokoh hasil upaya konservasi. Sayangnya, beberapa bangunan sudah mulai diubah dan menyesuaikan modernisasi zaman.

Reporter : shintya juliana putri, maulana indrayana

Editor : chusnun hadi