RADIUS

Mon Oct 11 2021 04:28:16 GMT+0000 (UTC)

#General

Etika Reklame untuk Estetika Kota Malang

Sebanyak tujuh prinsip dasar reklame harus dipenuhi, yakni proporsi, irama, keseimbangan, point of interest, keberurutan, skala, dan kesatuan

Penataan kawasan dengan reklame yang beretika akan menambah cantik wajah kota. (ist)

Malang-Radius – Sebagai kota yang dikenal sangat indah, sejuk dan asri, Malang harus terus menjaga nilai tersebut. Estetika kota harus tetap dibina, khususnya dalam penataan reklame di dalam kota.

Sudah banyak orang tahu, bahwa Kota Malang memiliki berbagai julukan. Salah satunya adalah Ngalam Kipa atau jika dibalik menjadi Malang Apik. Julukan ini diberikan karena Kota Malang memiliki tata kota yang lumayan bagus, didukung oleh struktur cuaca yang baik pula.

Dr.Ir. Ibnu Sasongko, M.T., Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota dari Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, memberikan highlight bahwa Malang masih harus berbenah untuk estetika dalam penataan ruang kota. Salah satu yang menjadi sorotan adalah media luar ruangan seperti baliho, reklame, dan lainnya.

Meskipun Peraturan Walikota Malang Nomor 27 tahun 2015 tentang Penataan Reklame sudah disahkan, namun masih banyak reklame yang dipasang tidak teratur. Ibnu khawatir jika reklame tidak ditata dengan baik, wajah Ngalam Apik tidak bisa dipelihatkan secara jelas nantinya.

Dr.Ir. Ibnu Sasongko, M.T

“Dalam merancang tata ruang kota ada unsur signage, yaitu rancangan khusus untuk simbol atau media penyampaian informasi. Inilah yang perlu dibenahi Kota Malang,” kata Ibnu Sasongko kepada Radius.

Ia menambahkan, reklame manjadi elemen penting karena memiliki fungsi ganda, yaitu tempat penyampaian informasi sekaligus berperan dalam Penghasilan Asli Daerah (PAD) Kota Malang. Data dari Badan Pendapatan Daerah Kota Malang, penghasilan reklame selama tahun 2020, realisasinya sebesar Rp19 miliar lebih. Tetapi, dampaknya pada estetika kota juga sangat berpengaruh.

Keberadaan reklame di ruang publik harus memastikan berbagai aspek. Selain keamanan, yang perlu diperhatikan adalah kenyamanan, keindahan, dan sesuai dengan rencana tata ruang kota. Karena banyaknya reklame di sisi bahu jalan, bisa jadi mengganggu para pengendara.

“Perlu diingat, bahwa pembangunan tata ruang kota bukan hanya untuk keindahan, tapi juga untuk keberlanjutan segala bidang, termasuk ekonomi,” tuturnya.

Ibnu menambahkan, pemasangan reklame ini harus memiliki prinsip agar tidak menutupi wajah kota. Sebanyak tujuh prinsip dasar reklame harus dipenuhi, yakni proporsi, irama, keseimbangan, point of interest atau kontras, keberurutan, skala, dan kesatuan.

Pemasangan reklame dengan prinsip yang benar akan terlihat apik. (ist)

Sebagai perbandingan, Bali sebagai kota wisata sudah mengadopsi tujuh prinsip dasar untuk membuat reklame yang memiliki estetika dan beretika. Pemerintah Bali bertindak tegas pada setiap reklame yang menganggu, serampangan, dan illegal. Inilah yang bisa dicontoh oleh Kota Malang.

Meskipun Pemerintah Kota Malang telah menurunkan media luar ruangan yang illegal dan tidak taat izin, namun tidak bisa dipungkiri masih banyak poster dan baliho yang dipasang tidak pada tempatnya, masih terpampang di kota ini.

Dari sekian prinsip itu, Ibnu memaparkan bahwa Kota Malang masih belum menerapkan dalam pemasangan reklame. Misalnya saja di seberang jalan Stasiun Baru Kota Malang. Di salah satu sudut jalan, reklame dipasang secara bertumpuk, sehingga ada reklame yang ukurannya lebih kecil tertutupi dengan reklame lebih besar di sekitarnya.

Selain itu, di Stadion Gajayana juga masih banyak terpasang reklame yang proporsinya tidak pas dan tidak menyatu dengan lingkungan sekitarnya. Meskipun semua reklame terlihat dengan jelas, namun tidak adanya bando reklame atau papan reklame, membuatnya mengurangi estetika dari stadion Gajayana.

Contoh pemasangan reklame dengan prinsip keseimbangan. (ist)

Meskipun banyak reklame yang mengurangi keindahan lingkungan di sekitarnya, Ibnu mengapresiasi pemerintah kota yang terus berbenah. Salah satu reklame yang sudah sesuai dengan prinsip pemasangan, adalah di jalan Soekarno Hatta area Politeknik Negeri Malang. Pemasangan reklame yang beirama sesuai dengan proporsi, dan menyatu dengan arsitektur bangunan membuatnya elok dipandang mata.

Sebelumnya, Ibnu telah memaparkan konsepnya saat rapat dengan DPRD Kota Malang pada awal tahun 2021 lalu. Konsep yang ditawarkan bisa menjadi sumbangan atas rancangan tata ruang Kota Malang. Namun sayangnya, hingga kini belum ada kelanjutan terkait hal itu.

Konsep ini pula yang diperlihatkannya kepada Radius. Melalui konsep itu, Ibnu memberikan solusi desain dan penataan ulang untuk titik reklame yang masih semrawut di Kota Malang. Sangat disayangkan jika desain itu tidak benar-benar diterapkan. “Tidak harus memakai desain saya, karena pada saat itu ada pula empat ahli yang lain. Tapi sampai sekarang saya belum mendapat kabar bagaimana kelanjutannya,” tambahnya.

Dari sekian banyak konsepnya, salah satu konsep yang dia tampilkan adalah penataan reklame di wilayah ijen. Reklame di Kawasan Ijen Boulevard yang sebelumnya tidak proporsional dan simetris, kemudian disulap menjadi reklame yang memiliki estetika. Di mana dalam penataannya, reklame kedua sisi bahu jalan diubah bentuknya menjadi simetris dan berirama. Sehingga, desain reklame manyatu dengan desain bangunan dan lingkungan di sekitarnya.

Selain peran pemerintah, perusahaan penyedia reklame dan pemberi desain bahan yang ditampilkan di dalamnya juga harus turut andil dalam penerapan tujuh prinsip di atas. Jika papan reklame sudah terpasang teratur, tetapi desain yang ditampilkan tidak memiliki point of interest, maka akan sia-sia.

Problematika terkait reklame ini sebenaranya masalah lama. Tapi hingga sekarang, regulasi hanya sebatas mengeluarkan peraturan tanpa ada keseriusan. Jika terus dibiarkan, maka wajah Kota Malang benar-benar akan tertutup.

“Reklame yang tidak beretika apapun alasannya tidak akan pernah punya estetika. Mau sebagus, sekeren, semahal apapun reklame itu dibangun, tetap terlihat kurang pas. Pemerintah telah mengeluarkan aturannya, dan itu yang harus dijalankan,” pungkas Ibnu.

Reporter : azizatul nur imamah

Editor : chusnun hadi