RADIUS

Fri Oct 15 2021 03:36:51 GMT+0000 (UTC)

#Health

Sulitnya Pengobatan Kanker di Indonesia

Data WHO, tingkat kematian kanker di Indonesia mencapai 60%, presentase ini lebih tinggi dari rata-rata dunia yang di bawah 50%

Sarana dan prasarana untuk menangani pasien kanker harus dilakukan terintegrasi, untuk menurunkan angka kematian akibat kanker. (clevelandclinic)

Malang-Radius – Ketersediaan sarana dan prasarana pengobatan kanker yang terbatas, membuat banyak korban meninggal akibat penyakit ini. Berbagai fasilitas harus dikembangkan untuk meningkatkan kesembuhan pasien. Salah satunya dengan membangun Rumah Sakit kanker bertaraf Internasional.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir, mengatakan bahwa pihaknya merencanakan pembangunan sistem One Stop Health Services. Pihaknya menggandeng Mayo Clinic, Rumah Sakit pengobatan kanker terbaik di dunia berdasarkan penilaian Mozocare. Erick berharap tidak ada lagi kematian tinggi pada penyakit kanker.

Data dari Global Cancer Observator, badan statistik kanker di bawah World Health Organization (WHO), terdapat hampir 400.000 kasus kanker baru dengan lebih dari 230.000 kematian. Tingkat kematian kanker di Indonesia bisa mencapai 60%, presentase ini lebih tinggi dari rata-rata dunia menurut WHO yakni di bawah 50%.

“Kita akan bangun Rumah Sakit Internasional untuk kanker di Sanur Bali. Kita juga sudah sepakat dengan Mayo Clinic yang memiliki penanganan kanker terbaik di dunia,” kata Erick Thohir, dalam Kuliah Umum Kebangsaan yang digelar secara daring di Universitas Airlangga, Surabaya, Selasa (12/10/2021) lalu.

Dalam kesepakatannya, Mayo Clinic diwajibkan memberikan training kepada dokter muda, suster, perawat, dan teknisi yang berasal dari Indonesia. Sehingga, pemanfaatan Sumber Daya Manusia Indonesia juga bisa dimaksimalkan.

Yayasan Anyo Indonesia terus melakukan edukasi pada penderita kanker anak di Indonesia. (ist)

Selama ini, para penderita kanker harus menjalani pengobatan ke luar negeri demi mendapatkan jaminan perawatan terbaik. Padahal tidak semua orang bisa menanggung biaya yang besar.

Keterbatasan tenaga medis, rumah sakit, dan alat pengobatan kanker yang belum memadai tentu menyulitkan penanganan kanker di Indonesia. Selain masalah fasilitas kesehatan, problematika lain juga turut menjadi tantangan dalam menurunkan angka kasus kanker maupun kematian akibat kanker di Indonesia.

Di Indonesia, hanya tersedia 14 Rumah Sakit Rujukan Nasional untuk penanganan penyakit kanker, yang tersebar di 13 provinsi. Di antaranya, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Provinsi lain adalah Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua. Artinya, pasien dari 21 provinsi lainnya harus berobat ke luar provinsi.

Rumah Sakit Kanker Dharmais menjadi pusat kanker nasional dan merupakan layanan kanker terpadu di Jakarta. Rumah sakit ini menjadi rujukan untuk pasien kanker dari seluruh daerah berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia RI No.HK.01.07/Menkes/531/2017.

dr. Muhammad Yusuf, Sp.OG (K) Onk., salah seorang dokter spesialis yang membantu pasien kanker di RS Dharmais, mengatakan bahwa fasilitas kesehatan untuk kanker masih perlu diperbaiki. Namun upaya pemerintah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Misalnya pada regionalisasi rumah sakit rujukan. Selain itu, SDM dokter pun sudah meningkat dan membaik seiring berjalannya waktu.

dr. Muhammad Yusuf, Sp.OG (K) Onk

Tetapi, kolaborasi dengan pasien menjadi PR paling utama bagi tenaga medis untuk menangani kanker. Sebab sebagian besar belum memiliki kesadaran penuh terkait deteksi dini. Inilah yang menyebabkan kebanyakan pasien datang ke rumah sakit ketika kanker sudah memasuki stadium lanjut.

“Kebanyakan pasien yang ditemukan adalah mereka yang sudah dalam kondisi stadium-stadium lanjut. Sehingga pengobatan dan terapinya pun tidak bisa optimal,” kata dr. Muhammad Yusuf kepada Radius, Rabu (13/10/2021).

Yusuf menjelaskan bahwa tingginya kematian akibat kanker juga diimbangi dengan paham masyarakat yang takut melakukan pengobatan medis. Mereka menganggap pengobatan tradisional atau pergi ke ‘orang pintar’ masih dipercaya bisa menyembuhkan penyakit ini. Padahal, penyakit kanker tidak semuanya berujung pada kematian jika diitangani dengan cepat dan tepat.

Sementara itu, menurut Prof. Dr. dr. Ari F. Syam., Sp.PD., akademisi dan praktisi kesehatan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, bahwa di dalam dunia medis, pasien kanker tidak bisa dikatakan sembuh total, meski gejalanya telah hilang.

“Ada istilah remisi atau relaps untuk pasien yang memiliki hasil tidak ada lagi sel kanker setelah melakukan terapi. Tetapi pola hidup harus tetap dikontrol secara teratur,” kata Prof. Ari F. Syam, dikutip dari gooddoctor.

Relawan kanker menghibur penderita kanker anak. (ist)

Istilah remisi berbeda dengan sembuh total, karena kanker bukan penyakit infeksi yang bisa dihilangkan secara menyeluruh. Penyintas kanker yang bisa relaps biasanya baru memasuki stadium awal. Jika sudah memasuki stadium empat atau akhir, survival ratenya cukup rendah.

Selama ini, masyarakat sebenarnya sudah menyadari jika pola hidup bisa mempengaruhi kesehatan mereka. Namun sayangnya, kesadaran itu hanya sebatas sadar tanpa melakukan aksi hidup sehat. Keadaan terus menerus seperti ini menyebabkan angka penderita kanker semakin meningkat.

Selain bisa menyerang orang dewasa, anak-anak juga rentan terhadap kanker. Seperti cerita survivor kanker cilik, Aisha Aurum. Putri dari artis Denada itu tidak hanya harus melakukan pengobatan ke luar negeri, tetapi juga harus melawan kanker di usianya yang masih lima tahun.

Ester, salah satu pengurus Yayasan Anyo Indonesia, sebuah lembaga peduli kanker anak, mengungkapkan bahwa kepekaan orang dewasa sangat berpengaruh dalam penanganan kanker pada anak. Pasalnya, anak belum mengerti sepenuhnya terkait kanker.

“Bukan cuma orang dewasa, tapi anak-anak bisa terkena penyakit ganas ini,” kata Ester kepada Radius, Rabu (13/10/2021).

Hingga sekarang, pihak yayasan selalu berupaya untuk memberikan sosialisasi secara masif. sehingga baik orang dewasa maupun anak-anak lebih peduli terhadap kanker dan bisa dilakukan deteksi dini.

“Keterbatasan rumah sakit, tenaga medis, dan alat kanker itu sudah menjadi masalah. Ditambah lagi, masyarakat banyak yang masih percaya paranormal. Kadang, pasien yang sudah masuk rumah sakit juga menolak pengobatan,” pungkas Ester.

Reporter : azizah nur imamah

Editor : chusnun hadi