RADIUS

Sun Oct 17 2021 00:27:40 GMT+0000 (UTC)

#Olahraga

Tak Patuh Aturan Anti-Doping, Indonesia Ditegur WADA

Teguran ini merupakan masalah serius. Sebab menyangkut integritas dan eksistensi olahraga Indonesia di ajang Internasional

Atlet PON XX Papua saat mendapatkan medali emas. Indonesia teransam sanksi WADA karena pemeriksaan anti doping PON XX dinilai tidak memenuhi standar.

Malang-Radius - Indonesia terancam tidak dapat berlaga di berbagai ajang olahraga Internasional. Pasalnya, The World Anti-Doping Agency (WADA) menilai Indonesia tidak mematuhi kode etik anti doping saat menggelar event olahraga nasional. Selain Indonesia, Korea Utara dan Thailand juga mendapatkan teguran yang sama.

Surat teguran sudah dilayangkan. Tetapi pihak Indonesia melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menyatakan bahwa masalah ini terjadi karena miskomunikasi. Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI) menyatakan sudah memenuhi permintaan WADA.

Menteri Pemuda dan Olahraga, Dr. H. Zainudin Amali, S. E., M.Si, mengatakan sudah ada komunikasi dengan WADA. Dia menilai adanya masalah miskomunikasi antara LADI dan WADA sehingga mendapatkan surat teguran tersebut.

Menpora Zainudin Amali.

“Kami telah mengirim surat ke WADA pada tanggal 9 Oktober 2021 lalu. Mereka memahami situasi dan kondisi olahraga di Indonesia yang sempat vakum sejak Maret 2020 lalu akibat pandemi Covid-19,” kata Zainudin Amali.

Ia memastikan bahwa Indonesia tidak akan kehilangan hak-haknya untuk berlaga di ajang olahraga internasional dan juga menjadi tuan rumah kejuaraan Internasional. Selain itu WADA akan menunggu sample uji doping di PON Papua, dengan harapan bisa memenuhi batas minimal sampel pengujian terpenuhi.

Menurut Amali, LADI telah menyiapkan sempel urine dari para atlet yang telah bertanding. Tetapi pengirimannya terkendala karena selama covid-19 terjadi, hampir semua kegiatan olahraga tidak dapat dilaksanakan.

WADA memberikan teguran Indonesia terkait kepatuhan anti-doping. (reuters)

Sementara itu, Wakil Ketua LADI, Rheza Maulana, menjelaskan terdapat tiga poin yang teguran WADA kepada Indonesia. Pertama, Test Doping Plan 2021 yang telah ditetapkan sejak tahun 2020, hingga saat ini belum terlaksana. Jumlah tes yang ditetapkan belum terpenuhi sehingga Indonesia dianggap tidak patuh.

Kedua, keterlambatan pengiriman sampel doping sekitar 700 atlet yang berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua. Menurut dia, transisi kepengurusan sempat menjadi kendala. "Posisinya sudah dikirimkan ke bagian compliance WADA dan sudah disetujui oleh WADA," kata Rheza Maulana.

Dan ketiga, berkas Test Doping Plan 2022 dinilai belum sesuai aturan WADA. "Untuk poin ini, kita sudah revisi dan sudah dikirim Kembali ke WADA, dan menunggu persetujuan WADA terkait komposisi jumlah testing," jelasnya.

Dr. Nanang Tri Wahyudi

Staf Pengajar Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang, Dr. Nanang Tri Wahyudi, SpKO, kepada Radius mengatakan, teguran dari WADA merupakan masalah yang serius. Sebab, menyangkut pengakuan atas integritas dan eksistensi olahraga Indonesia di ajang kompetisi internasional.

“Sangat disayangkan. Teguran ini merupakan masalah yang serius karena menyangkut pengakuan atas integritas dan eksistensi olahraga Indonesia di ajang Internasional. Padahal hampir semua negara meratifikasi aturan anti-doping yang dibuat oleh WADA,” kata Dr. Nanang, yang juga Dokter Tim Arema FC.

Meskipun ada harapan lolos dari sanksi WADA, LADI yang menjadi lembaga anti-doping Indonesia harus membuat program kerja dengan menetapkan TDP yang didasarkan pada analisis risiko di setiap cabang olahraga. Untuk mencapai tujuan tersebut, koordinasi harus dilakukan dengan pihak pemerintah khususnya terkait dengan pendanaan, teknis opersaional dan sebagainya.

Alumnus Program Studi Ilmu Kedokteran Olahraga di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menambahkan, bahwa pihaknya tidak mengetahui secara detail program kerja LADI terkait pengawasan anti-doping. Karena hal tersebut sudah menjadi kewenangan Kemenpora.

Tetapi Nanang Tri berharap agar para atlet Indonesia tidak perlu meresahkan masalah ini. “Altet tidak perlu pusing memikirkan hal-hal non kepelatihan seperti ini. Cukup fokus pada perbaikan dan pengembangan performa agar berprestasi di level regional, nasional maupun Internasional,” tutup Nanang.

Reporter : maulana indrayana

Editor : chusnun hadi