RADIUS

Sat Oct 09 2021 10:02:17 GMT+0000 (UTC)

#General

Aksi Komunitas “Satus Repes” untuk Kajoetangan

Membersihkan Coretan Vandalisme dan Menggelar performing art musik dan tari, Minggu, 10 Oktober 2021, mulai pukul 09.00 pagi

Kawasan Heritage Kajoetangan harus bebas dari vandalisme. (dra)

Malang-Radius - Coretan cat semprot di beberapa titik merusak estetika kawasan Kajoetangan, Jalan Basuki Rahmat, Kota Malang. Lokasi cagar budaya yang harusnya elok di pandang mata, malah terlihat seperti kumpulan bangunan yang tak terawat. Sangat memprihatinkan.

Inilah yang membuat sekumpulan individu dalam komunitas peduli cagar budaya “Satus Repes” dan penggemar kawasan heritage Malang ingin membersihkan coretan vandalisme tersebut. Tidak hanya itu, komunitas itu juga akan menggelar performing art berupa pentas seni musik dan tari, untuk mengentalkan suasana budaya di Kajoetangan Heritage. Rangkaian acara ini akan digelar Minggu, 10 Oktober 2021, mulai pukul 09.00 pagi.

“Ini bukan suatu kelancangan, ujug-ujug turun memperbaiki heritage. Tapi ini bentuk kepedulian untuk melestarikan,” kata Tri Iwan Widhianto, Koordinator Kegiatan Koin “Satus Repes” untuk Heritage Kota Malang, dalam rapat koordinasi bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, Sabtu (9/10/2021). Rapat koordinasi ini juga diikuti oleh tim Radius.

Dikutip dari getradius.id dalam berita berjudul “Menunggu Hasil Akhir Kajoetangan Heritage”, seharusnya, kawasan ini sudah diresmikan secara menyeluruh sejak Agustus 2021. Artinya, pembangunan harus sudah selesai dan siap dinikmati wisatawan sebagai cagar budaya.

Penantian itulah yang ditunggu oleh Iwan Widhianto dan rekan-rekannya. Bukannya tambah apik sesuai dengan ekspektasi, malah semakin amburadul dengan banyaknya coretan cat semprot ulah vandalism.

Berdasar Undang-undang (UU) No. 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya dan UU No. 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan, berisi kewajiban pelestarian dan perlindungan cagar budaya. Inilah yang membuat komunitas “Satus Repes” kemudian merencanakan kegiatan sosial sekaligus pelestarian yang akan diadakan Hari Minggu tanggal 10 Oktober 2021.

Niat baik tidak sepenuhnya berjalan mulus. Instansi Pemerintah mengkhawatirkan adanya kerumunan dan pelanggaran protokol kesehatan (prokes). Mengingat Kota Malang saat ini masih dalam PPKM Level 3. Antara pemerintah dan Komunitas Satus Repes belum sepaham. “Bukan satu atau dua instansi yang telah kami surati, tetapi 16 instansi telah kami kirimi surat,” tambahnya.

Suwarjana dan Ahmad Fuad Rahman. (azi)

Dalam kacamata pemerintah, Kota Malang saat ini masih sensitif dengan adanya kasus kerumunan yang bisa memicu kemarahan warga. Acara yang akan digelar komunitas Satus Repes ini, dikhawatirkan akan memicu kerumunan baru.

“Selama pandemi, semua di rumah, semua jenuh. Sekarang sudah mulai longgar. Ibaratnya ada sedikit saja suara musik maka warga langsung datang,” kata Suwarjana, S.E., M.M., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang.

Pada dasarnya Suwarjana mengapresiasi dan mendukung bentuk kepedulian komunitas ini. Tetapi secara timing, pihaknya merasa jika sekarang bukanlah waktu yang tepat. Apalagi, kegiatan ini bukan hanya pelestarian saja tetapi juga pagelaran kesenian.


Wibie Mahardika

Wibie Mahardika Suryomentaram, Budayawan asal Malang ini menyayangkan jika acara komunitas “Satus Repes” dibatalkan. Menurutnya, justru Bulan Oktober adalah momentum yang pas untuk mengadakan kegiatan ini.

“Berbicara tentang spirit atau semangat, ini adalah momentum yang pas. Bulan ini penuh dengan hari besar. Mulai dari Kesaktian Pancasila, Maulid Nabi, dan Sumpah Pemuda,” kata Wibie Mahardika.

Selama dua jam koordinasi ini berlangsung, akhirnya acara ini mendapatkan lampu hijau. Keputusan ini dibacakan oleh Ahmad Fuad Rahman, S.E., M.M., Aggota Komisi C DPRD Kota Malang, yang menjadi pihak penengah.

Fuad mengawasi dengan ketat setiap pergerakan dari kegiatan “Satus Repes” Hari Minggu (10/10/2021), di Kawasan Heritage. Dia pun meminta pihak komunitas untuk menepati janji dengan meminimalisir segala kerumunan yang mungkin akan terjadi.

Dia pun juga meminta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang untuk menunjuk seorang ahli untuk mendampingi kegiatan tersebut. Ir. Budi Fathony, MTA., Ahli Arsitektur sekaligus penerima Penghargaan Pemberdayaan dan Apresiasi Pelaku Seni Budaya Tahun 2020 oleh Walikota Sutiaji, adalah orang yang dipercaya untuk mengemban tugas pendampingan terhadap “Satus Repes”.


Budi Fathony

Dalam kegiatan nanti, komunitas Satus Repes menggelar dua kegiatan sekaligus. Pertama, melakukan revitalisasi pengecatan ulang tembok akibat ulah dari vandalism yang diikuti sekitar 50 orang. Sasaran pengecatan Obyek Bangunan Cagar Budaya (OBCB) di lajur kiri dan lajur kanan jalan Basuki Rahmad, dan Koridor Kayutangan. Kegiatan dimulai dari Jembatan Penyebarangan Orang (JPO) depan kantor Telkom Kota Malang dari Selatan menuju ke Utara.

Selanjutnya, ada kegiatan ekspresi musik, seni dan budaya yang didukung para pelaku seniman asli Malang Raya. Akan ada tiga penampilan di sana yang dibagi dalam tiga titik lokasi di kawasan Heritage Kayutangan. Semua kegiatan akan dilakukan dengan protokol kesehatan ketat.

Kegiatan ini sekaligus memberikan ruang ekspresi kepada seniman-seniman di Malang Raya untuk berkreasi setelah sekian lama mati suri. Sebagai ruang publik dan kawasan bersejarah tentunya hal ini menjadi tanggung jawab bersama untuk merawat, menjaga dan mempertahankan kawasan nilai sejarah tinggi yang tepat berada di jantung Kota Malang.

Reporter : shintya juliana putri, azizatul nur imamah

Editor : chusnun hadi