RADIUS

Mon Oct 11 2021 02:12:22 GMT+0000 (UTC)

#Olahraga

Game Online, dari Hobi Menuju Prestasi

Kementerian Pemuda dan Olahraga serta Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) telah mengakui e-sport menjadi salah satu cabang olahraga prestasi

Perwakilan Hearthstone Indonesia (HSID) dalam event lomba e-sport. KIni e-sport diakui sebagai salah satu cabang olahraga prestasi. (ist)

Malang-Radius - Bagi para pecinta game, hobi yang dulu hanya untuk mengisi waktu luang, kini bisa beralih menjadi profesi yang menghasilkan uang. Kementerian Pemuda dan Olahraga serta Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) telah mengakui game atau e-sport menjadi salah satu cabang olahraga prestasi.

Regulasi untuk para pemain game atau gamers juga telah diterbitkan. Dalam Peraturan Pengurus Besar E-sports Indonesia Nomor: 034/PB-ESI/B/VI/2021, tentang Pelaksanaan Kegiatan Esports di Indonesia yang terdiri dari 46 pasal, menuliskan apa saja syarat menjadi gamers.

Pengakuan ini juga sinyal bahwa e-sport dapat dilombakan dalam setiap pekan olahraga dan kompetisi resmi nasional seperti Pekan Olahraga Nasional (PON). PON XX Papua 2021, untuk pertama kalinya e-sport masuk dalam salah satu cabor multievent empat tahunan tersebut.

Sebelumnya, di Asian Games 2018, e-sport pertama kali dilombakan. Ada 6 game yang dipertandingkan saat itu, yakni Arena of Valor (AOV), Clash Royale, League of Legends (LOL), StarCraft II, HearthStone, dan PES 2018.

Komunitas Hearthstone Indonesia (HSID) beranggotakan gamers profesional. (ist)

Farando Prakoso, Community Manager di Hearthstone Indonesia (HSID), mengatakan bahwa HSID menjadi salah satu komunitas yang berhasil mengirimkan perwakilannya menjadi Kontingen e-sport di Asian Games 2018. Melalui Hendry ‘Jothree’ Handisurya, cabor e-sport kategori Hearthstone berhasil mempersembahkan medali perak untuk Indonesia.

Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Bukan hanya mematahkan stigma bermain game tidak bisa berprestasi, tetapi juga bisa menjadi profesi. Kepada Radius, Farando mengatakan bahwa untuk menghapus stigma diperlukan bukti dan hasil yang nyata.

“Kalau cuma main game, semua orang bisa. Tinggal pencet-pencet doang. Tapi, ya orang tua memang tidak mengerti bahwa sebenarnya game bisa menjadi bagian dari olahraga. Itulah sebabnya harus ada wadah buat mereka,” kata Farando.

Selain Berjaya di Asian Games 2018, HSID juga berhasil membawa nama Indonesia di ajang turnamen lokal, nasional, serta internasional. Komunitas yang berdiri sejak tahun 2014 itu hingga sekarang menaungi setidaknya 5.000 anggota dari seluruh Indonesia. Selama 7 tahun, komunitas itu terus berusaha membawa gamers menjadi seorang professional yang berprestasi. Bukan hanya atlet, tapi juga karir lainnya dalam pekerjaan.

Hobi menjadi Prestasi. (ist)

Untuk merekrut anggota, HSID mencantumkan spesifikasi umur antara 18-24 tahun. Bukan tanpa alasan, dia menyadari jika umur tersebut adalah umur yang pas untuk ‘mematangkan karir’. Sehingga dalam pembinaannya, anggota-anggota itu akan tergabung dalam program ‘youngblood’.

“Usia 18-24 tahun belum tentu setiap orang itu sama. Artinya, di usia itu belum tentu mereka pinter, kuliah, apalagi mapan. Dan HSID ada buat mereka yang tidak dalam fase itu,” lanjutnya.

Sebuah komunitas, menurutnya sangat diperlukan untuk seorang gamers. Dengan tujuan membuat mereka lebih terorganisir, dan yang paling penting dukungan yang diberikan oleh komunitas bisa meningkatkan kepercayaan diri setiap anggotanya.

Farando menerapkan kerja keras dan pantang menyerah dalam kehidupan nyata untuk para ‘youngblood’. Karena untuk memiliki skill bermain game bisa didapatkan dengan mudah, tapi dia meyakini bahwa prestasi bukanlah sesuatu yang murah. Inilah yang membedakan kualitas di antara para gamers.

“Harga mahal prestasi gamers ada di kemauan, perjuangan, dan perilaku mereka. Itu yang membuat mereka punya kualitas,” lanjut Farando.

Selain game yang dipertandingkan secara resmi, ada pula game yang banyak digandrungi gamers Indonesia. Salah satunya adalah Mobile Legend. Permainan video besutan Moonton yang merupakan anak perusahan dari ByteDance ini mampu mencuri hati para gamers.

Dalam kurun waktu 5 tahun sejak dirilis 14 Juli 2016, data google playstore menunjukkan Mobile Legend : Bang Bang sudah diunduh sebanyak 100 juta lebih pengguna. Dan menduduki peringkat pertama sebagai game laga terlaris.

Anton Nio, Leader Community Heroes Malang (CH Malang), yang merupakan komunitas Mobile Legend : Bang Bang Kota Malang, mengakui bahwa eksistensi permainan game itu memiliki banyak peminat. Menurut penuturannya kepada Radius, game Mobile Legend memiliki support yang baik di berbagai device dengan penyimpanan yang tidak terlalu berat seperti game pada umumnya.

Menariknya, komunitas yang didirikan pada 13 September 2020, dinaungi secara resmi oleh Community Hero Indonesia yang merupakan komunitas terdaftar di Mobile Legend Indonesia. Saat ini, anggotanya diperkirakan 50 orang dan jumlahnya terus meningkat. Lelaki 23 tahun itu berharap wadahnya bisa segera mempersiapkan pembinaan untuk melatih gamers menjadi seorang professional.

Game sekarang kan sudah diresmikan jadi cabang olahraga oleh pemerintah. Jadi, adanya CH Malang berharap bisa turut andil mengirim kontingen khususnya mewakili Jawa Timur,” tambahnya.

M. Faridhotul Iclas

CH Malang bukan satu-satunya komunitas pecinta Mobile Legend di Kota Malang. Ada pula, komunitas E-sport Singosari. Berbeda dengan CH Malang, E-sport Singosari adalah komunitas independen alias bergerak secara mandiri.

Meski demikian, eksistensinya di dunia Mobile Legend di Kota Malang tidak diragukan. Berdiri sejak Desember 2020, M. Faridhotul Iclas, pendiri komunitas tersebut, mengaku sudah mengadakan lebih dari tujuh turnamen lokal dengan hadiah mencapai jutaan rupiah.

Kepada Radius, dia menceritakan bahwa semua kegiatan turnamen hanya berasal dari hobinya. Namun dia tidak menyangka jika animo masyarakat pada turnamen ini sangat besar. Bahkan kegiatan pertandingan yang dia selenggarakan itu berhasil menarik gamers luar kota.

“Saya bukan siapa-siapa, bukan komunitas besar juga. Tapi begitu ada turnamen, antusias gamers sangat besar. Bahkan berasal dari luar kota, seperti Surabaya dan Yogyakarta mereka mau datang ke sini hanya untuk bermain game,” jelasnya.

Dilansir dari katadata.com, Indonesia menjadi salah satu negara dengan pangsa pasar game yang besar. Pada tahun 2019, tercatat lebih dari 50 juta gamers aktif. Angka ini juga belum mencakup gamers amatir secara keseluruhan.

Pendapatan dari pasar game mencapai 1,1 miliar USD atau sekitar Rp15,4 triliun pada 2018. Pendapatan tersebut meningkat 25 persen dibandingkan pada tahun sebelumnya. Menariknya, menurut Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, game menjadi usaha yang memiliki profit meningkat di tengah pandemi.

Peluang bisnis dunia game inilah yang kemudian dimanfaatkan banyak pihak. Misalnya menjual voucher game, pengadaan turnamen berbayar, hingga menjadi agen yang menaungi para professional.

Terlepas dari pro dan kontra yang masih menganggap game adalah hal candu, namun banyaknya cerita sukses dari para gamers justru menjadi opsi cita-cita baru. Tidak bisa dipungkiri nama besar seperti Jess No Limit, Reza Arap, dan Frost Diamond adalah sebagian kecil dari mereka yang sukses dengan mengawali karir di dunia game.

Reporter : azizatul nur imamah

Editor : chusnun hadi