RADIUS

Sun Oct 10 2021 12:11:04 GMT+0000 (UTC)

#Entertainment

Bukti Kepedulian pada Kajoetangan Heritage

Aksi ini diadakan atas kesadaran dan inisiasi teman-teman yang prihatin pada kondisi cagar budaya Kajoetangan Heritage

Kawasan cagar budaya Kajoetangan Heritage harus terlihat bersih, elok, dan punya daya tarik wisata. (dra)

Malang-Radius – Komunitas Satus Repes membersihkan corat-coret di kawasan Kajoetangan Heritage, Minggu (10/10/2021). Tujuannya untuk membuat kawasan warisan budaya itu terlihat lebih elok. Inilah bentuk kepedulian warga Malang Raya pada kawasan wisata budaya tersebut.

Sejak pukul 08.00 Wib pagi, Tri Iwan Widhianto bersama rekan-rekan Satus Repes lainnya sibuk melakukan pengecatan ulang di sepanjang pertokoan Jalan Basuki Rahmad. Salah satunya adalah bekas bioskop Merdeka dan Toko Modern yang dulunya menjual sepatu kulit.

Kegiatan yang mereka lakukan ini didanai oleh donasi warga Malang yang ingin mempercantik kawasan di jantung Kota Malang ini. “Aksi ini diadakan atas kesadaran dan inisiasi teman-teman yang prihatin terhadap kondisi cagar budaya Kajoetangan Heritage,” kata Iwan, Koordinator Satus Repes.

Mengecat ulang agar bersih dari aksi vandalisme. (azi)

Kondisi kawasan tersebut memang snagat memprihatinkan. Corat-coret di dinding tembok berbagai bangunan, menjadikan kurang enak dipandang mata. Benny Wibisono, relawan yang tergabung dalam aksi Koin Satus Repes untuk Heritage Kota Malang, pernah melihat sendiri aksi vandalisme yang dilakukan oleh sekelompok pemuda di bawah umur. Kontan saja ia menegur. Inilah awal mula yang mendasari para relawan Satus Repes tergerak untuk melakukan aksi sosial ini.

Isa Wahyudi, Ketua Tim Ahli Cagar Budaya mendukung penuh kegiatan yang dilakukan oleh komunitas ini. Menurutnya, etika pelestarian ini dilakukan agar masyarakat secara umum lebih peduli pada kawasan peninggalan zaman dulu.

Isa Wahyudi

“Apalagi kawasan cagar budaya sudah diatur dalam undang-undang,” kata Isa. Undang-undang yang dimaksud adalah Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya dan UU No. 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan, yang berisi kewajiban pelestarian dan perlindungan cagar budaya.

Isa Wahyudi atau yang akrab dipanggil Ki Demang mengatakan bahwa sampai saat ini Malang belum memiliki tenaga ahli khusus untuk pelestarian cagar budaya. Karena itu dalam kegiatan ini Dinas pendidikan dan Kebudayaan menunjuk Ir. Budi Fathony, MTA., sebagai tenaga ahli arsitektur bidang cagar budaya.

“Kajoetangan ini sudah masuk daftar jaringan Kota Pusaka Indonesia. Jadi kegiatan seperti ini harus kita dukung dan bisa jadi penyambung antara stakeholder, akademisi dan masyarakat,” ucap Budi Fathony kepada Radius.

Penampilan seni tari meramaikan aksi peduli Kajoetangan. (sin)

Budi menambahkan, semakin banyak mengadakan kegiatan di kawasan cagar budaya maka semakin banyak warga Malang yang antusias dengan Kawasan Cagar Budaya Kajoetangan Heritage. “Ini merupakan kali kedua ada kegiatan di sini. Sebelumnya ada Oeklam-Oeklam Kajoetangan Heritage, sekarang ada aksi dari Satus Repes,” tuturnya.

Selain melakukan mengecatan ulang tembok agar terlihat cantik, juga ditampilkan ekspresi musik, seni dan budaya. Para seniman tari memadati area halaman depan dealer Yamaha yang berada di Jalan Basuki Rahmad.

Buddie Mahardika, salah satu pemilik sanggar tari di Malang mengatakan bahwa dalam kegiatan ini dirinya membuat momen sejarah baru. Sanggar Hambekso Suryo Amurwa dan Kagama Beksan Malang berkolaborasi membuat tari Bapang dan Wanoro.

“Tari Bapang menggunakan kostum berwarna merah dan Wanoro kostum warna putih. Tarian ini melambangkan semangat Merah Putih untuk anak muda dan kebangkitan Nusantara,” tandasnya.


Dua foto udara kawasan Kajoetangan. (dra)

Buddie sangat antusias pada kegiatan ini, karena selama pandemi para seniman seakan terpenjara dan tak bisa berekspresi. Perlu menjadi catatan khusus, Ini untuk pertama kalinya Malang menggelar kembali kegiatan seni dan budaya di kawasan cagar budaya.

“Terima kasih banyak mas Iwan dan rekan-rekan Satus Repes. Anak-anak bisa bergembira dan sukacita berkesenian,” kata Buddie yang berciri khas selalu mengenakan blangkon.

Selain itu, juga tampil tari jaranan dari sanggar seni Satrio Turonggo Jati yang menarik banyak perhatian masyarakat yang melintas di kawasan Kajoetangan. “Kegiatan ini juga untuk melestarikan budaya dan mengenalkan tarian jaranan kepada anak-anak zaman sekarang,” tutur Nanang Gustanto.

Ada juga komunitas Seikil Seniman Kaki Lima Malang yang turut hadir meramaikan kegiatan tersebut. Menurut pantauan tim Radius, masyarakat antusias dan haus akan hiburan, berbondong-bondong mendatangi kawasan cagar budaya. “Rumah saya di Jodipan. Tadi datang ke sini karena tahu dari teman-teman, nyenengin anak sudah lama gak lihat hiburan,” kata salah seorang warga Malang yang hadir dalam acara tersebut.

Ada juga warga yang habis olahraga bersepeda santai mampir dan melihat gelar seni dan budaya yang ditampilkan di dua titik berbeda. Memang, relawan Satus Repes sengaja membagi penampilan seni di dua titik agar tidak menimbulkan kerumunan, mengingat Kota Malang sampai saat ini masih berada pada PPKM level 3.

Dengan adanya kegiatan ini, Satus Repes dan warga Malang turut andil menghargai sejarah Kota Malang dan Kawasan Cagar Budaya Kajoetangan Heritage. Malang Kotaku, Maju Tujuanku.

Reporter : tim Radius

Editor : chusnun hadi