RADIUS

Tue Oct 12 2021 04:13:30 GMT+0000 (UTC)

#Travel

Kajoetangan Bukan Malioboro

Kajoetangan tidak sama dengan Malioboro, tapi hanya mirip dengan Braga di Bandung. Sebab Malioboro erat kaitannya dengan keraton

Lokasi bekas Bioskop Merdeka yang untuk sementara ini menjadi tempat parkir mobil pengunjung Kajoetangan. (dra)

Malang-Radius – Aksi Komunitas “Satus Repes” memperindah wajah Kajoetangan Heritage bukan sekedar bentuk kepedulian pada cagar budaya, tetapi juga bentuk keprihatinan atas belum tuntasnya revitalisasi kawasan wisata tersebut. Dana besar Pemerintah Pusat yang dikucurkan belum mampu menonjolkan kekhasan lokasi ini.

Tri Iwan Widhianto, Koordinator Kegiatan Koin “Satus Repes” utuk Heritage Kota Malang, mengatakan bahwa kegiatan mengecatan kembali atas aksi vandalisme, menggunakan dana individu anggotanya dan hasil donasi dari masyarakat. Uang miliaran rupiah yang dikucurkan Pemerintah Pusat dalam Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku), nyatanya tidak mampu memenuhi kebutuhan penataan Kajoetangan Heritage.

“Kita pakai uang pribadi dan donasi, tidak ada uang pemerintah sama sekali. Murni persembahan komunitas Satus Repes dan teman-teman yang peduli Kajoetangan,” kata Iwan Widhianto kepada Radius.

Dilansir dari getradius.id, tahun 2020 lalu, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono menggelar program Kotaku. Program ini merupakan kolaborasi antara Kementerian PUPR dan Pemerintah Daerah untuk mendorong dan memberdayakan warga setempat sebagai pelaku pembangunan.

Anggaran sebesar Rp23 miliar yang digelontorkan, mulanya untuk bangunan, drainase, air bersih, air minum, pengelolaan persampahan, pengelolaan air limbah, pengamanan kebakaran atau hydrant serta ruang terbuka publik. Tetapi, nyatanya tidak demikian.

Ahmad Fuad Rahman

Menurut Ahmad Fuad Rahman, Anggota Komisi C DPRD Kota Malang, berdasarkan laporan yang dia terima, anggaran Rp23 miliar itu tidak cukup untuk membelanjakan tanaman, tanah, dan kompos yang diperlukan untuk keindahan.

“Saya kaget lihat laporan Program Kotaku Rp23 miliar, ternyata tanaman dan medianya tidak masuk. Cuma cukup beli potnya aja, itu pun sudah rusak,” kata Ahmad Fuad Rahman dalam pertemuan dengan komunitas Satus Repes dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang.

Pemerintah Kota, lanjutnya, seharusnya secara maksimal membenahi bagian koridor Kajoetangan Heritage yang digunakan sebagai kawasan cagar budaya. Pihak Dewan pun sudah mendesak Pemkot Malang untuk memberikan konsep jelas terkait Kajoetangan Heritage.

Pihaknya juga menanyakan penggunaan anggaran dialokasikan ke mana saja, dan pihak pemkot memfokuskan pada bagian dalam, yaitu di kawasan pemukiman RW 01, RW 09 dan RW 10 di Kajoetangan. Selain itu, menyelesaikan infrastruktur dasar berupa jalan lingkungan, saluran dan biofill di RW 04 Kelurahan Polehan. Total luasan wilayah yang dikerjakan ini sekitar 23 hektar.

Kursi di trotoar kawasan Kajoetangan telah terpasang. (dra)

Sedangkan bagian luar dibenahi seadanya. Padahal DPRD Kota Malang sudah mengingatkan agar melakukan pembenahan total di bagian koridor Kajoetangan Heritage agar kawasan ini bisa segera diresmikan secara menyeluruh. Sejak awal, wakil rakyat berharap agar menyajikan view yang indah dan menjadi pusat perhatian di Kota Malang.

“Di tahun 2021, di umur 107 tahun, harusnya Kota Malang sudah berbicara tentang keindahan. Bukan lagi bangun sana sini,” tambahnya.

Melihat keindahan Kajoetangan Heritage, Tim Radius melakukan penelusuran sejauh mana rancangan fasilitas Pemerintah Kota Malang pada kawasan cagar budaya itu terealisasi. (Lihat infografis, red)

Terlihat jelas sebelum kegiatan Satus Repes, coretan cat semprot menjadi pemandangan nyentrik di pertokoan sepanjang Jalan Basuki. Bahkan hasil vandalism itu disindir oleh sebagian orang sebagai ciri khas Kajoetangan Heritage.

Masih terdapat Trotoar yang sempit, dan pohon besar yang bisa merusak struktur bangunan trotoar. (dra)

Tim Radius kemudian mempertanyakan, apa yang menjadi ciri khas Kajoetangan. Pasalnya, ciri khas sangat penting untuk dijadikan sebagai ikon atau identitas dari sebuah kawasan wisata budaya.

Kalau kita berkunjung ke Malioboro, Jogyakarta, suasana kolonial sangat terasa. Selain itu, penataan bangunan serta fasilitas sarana dan prasarana lainnya juga mendukung atmosfer tempo dulu. Seperti penulisan papan jalan yang menggunakan huruf latin dan aksara jawa, menjadi ikon yang kerap dibuat swafoto oleh para pengunjung dan wisatawan.

Sementara, Kajoetangan yang terletak di jantung kota Malang itu ramai dengan kendaraan. Hal ini perlu menjadi pertimbangan apabila Kajoetangan Heritage nanti didatangi oleh banyak wisatawan lokal maupun luar kota, atau bahkan mancanegara. Apakah keselamatan dan keamanan wisatawan sudah terjamin.

Budi Fathony

Ir. Budi Fathony, MTA, Ahli Arsitektur bagian Cagar Budaya yang ditunjuk sebagai Tim Ahli Cagar Budaya Kota Malang, menuturkan persepsi masyarakat bahwa Kajoetangan Heritage disamakan dengan Malioboro, adalah suatu kesalahan. Kemiripan Kajoetangan adalah dengan Jalan Braga yang ada di Bandung.

“Kajoetangan ini tidak sama dengan Malioboro tapi hanya mirip dengan Braga. Karena Malioboro erat kaitannya dengan keraton,” kata Budi Fathony kepada Radius, saat ditemui pada kegiatan Satus Repes, Minggu (10/10/2021).

Menurutnya, Kajoetangan adalah rancangan dari Thomas Karsten yang menjadi konsultan pengembangan Kota Malang pada tahun 1914. Peninggalan bangunan kolonial memiliki keunikan dan nilai arsitektural yang bisa menjadi ikon khas dari Kajoetangan, karena memiliki nilai budaya.

Namun sayangnya, mural dan aksi vandalisme justru membuat Kajoetangan Heritage kehilangan nilainya. Dalam perspektifnya, masyarakat memerlukan wadah dan ruang untuk mengekspresikan jiwa seninya. Akibatnya, bangunan kolonial Kajoetangan terancam kehilangan nilai budaya aslinya.

Wibie Mahardika Suyomentaram, Budayawan asal Malang, mengatakan bahwa Kota Malang dalam hal ini Kajoetangan tidak boleh kehilangan asal usulnya. Pelestarian budaya harus terus dilakukan tidak peduli apapun.

“Kota Malang itu adalah mata air peradaban nusantara yang harus dijaga kemurniannya. Melalui Kajoetangan Heritage, maka dampaknya akan sangat baik bagi kita, mulai dari nilai budaya yang terjaga dan keberlangsungan sosial ekonomi akan tercapai,” pungkas Wibie.


Reporter : tim Radius

Editor : chusnun hadi