RADIUS

Mon Oct 11 2021 08:13:12 GMT+0000 (UTC)

#Health

Launching Buku Covid, Gus Mus Beri Ijazah

Menurut Gus Mus, ketika bangsa ini dilanda pandemi covid-19, sebenarnya sedang diuji oleh Allah SWT, apakah nilai-nilai kemanusiaan seseorang itu masih ada atau tidak

dr. Syifa Mustika saat melaunching buku Kupas Tuntas Vaksin Covid-19 secara hybrid. (ist)

Launching buku berjudul: Kupas Tuntas Vaksin Covid-19, Minggu (10/10/2021) lalu, karya dr. Syifa Mustika, Sp.PD-KGEH, FINASIM, terasa istimewa. Selain diikuti pejabat, tokoh masyarakat, dan kyai kharismatik, acara tersebut juga serentak diikuti kolega dr. Syifa dari 76 kota di seluruh Indonesia.

+++

JIka ada dokter yang multitasking, dr. Syifa adalah salah satunya. Sehari-harinya, dia bertugas di 3 rumah sakit di Malang: RS Saiful Anwar, RS Lavalette dan RS Hermina. Mulai pagi hingga malam hari. Juga mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Dan selama pandemi Covid-19, diamanahi memimpin Satgas Peduli Covid-19 NU Malang Raya.

“Saya memantau aktivitas dr. Syifa itu capek. Saking aktifnya dia. Padahal saya hanya memantau lho. Tapi, di tengah kesibukannya, masih sempat menulis buku. Salut untuk dr. Syifa,” kata dr. Muhammad S. Niam, M.Kes, SpB-KBD, FINACS, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Perhimpunan Dokter NU, ketika memberikan sambutan di acara launching buku “Kupas Tuntas Vaksin Covid-19” di Hotel MaxOne, Malang, MInggu lalu (10/10/2021).

Launching buku berjudul: Kupas Tuntas Vaksin Covid-19 karya dr. Syifa Mustika juga dihadiri Wakil Gubernur Jatim, Emil Elistianto Dardak. (ist)

Acara launching buku itu dilaksanakan secara hybrid. Beberapa undangan hadir di lokasi acara. Tapi kebanyakan hadir secara virtual. Kyai, ulama, tokoh-tokoh masyarakat, serta pejabat penting hadir secara virtual, dan memberikan sambutan. Mulai dari Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko; Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani; dan Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak.

Kolega dr. Syifa juga hadir secara virtual. Mulai dari Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr. Daeng M. Faqih, S.H., M.H; Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH; kolega dari luar negeri, yang juga mentor dr. Syifa dari Thailand, Assoc Prof. Dr. Pradermchai Kongkam; dan juga ada yang dari India.

Kyai, tokoh-tokoh masyarakat, mulai dari Malang, Jatim, hingga nasional juga hadir secara virtual. Di antaranya: Ketua PCNU Kota Malang, Dr KH Israqunnajah; Ketua RMI (Rabithah Ma’ahid Islamiyah) PBNU, KH Abdul Ghaffar Rozin; dan KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Rembang, yang juga Mustasyar PBNU.

Gus Mus (kanan) juga memberikan dua ijazah pada dr. Syifa, yakni istighfar dan sholawat. (ist)

Pendek kata, acara launching buku dr. Syifa hari itu adalah bertabur tokoh, bertabur pejabat, dan juga bertabur kolega dr. Syifa sesama dokter, tak hanya di Malang, di Jawa Timur, di luar Jawa Timur, bahkan di sejumlah kota di dunia. Antara lain Tiongkok, Jerman, London, Rusia, Singapura dan Jepang. Total, seluruh kolega dr. Syifa itu tersebar di 76 kota yang hari itu mengikuti launching buku secara virtual.

Gus Mus dalam sambutannya menyambut baik langkah yang dilakukan dr Syifa menerbitkan buku tentang vaksin yang saat ini dibutuhkan oleh masyarakat. “Segala sesuatu itu harus diserahkan kepada ahlinya. Kalau soal pandemi, ya serahkan kepada dokter,” kata Gus Mus.

Dia menambahkan, saat ini, banyak yang salah kaprah. “Saya masih mendengar, ada profesor ahli ekonomi bicara soal kesehatan. Sebaliknya, ada profesor bidang kesehatan bicara soal ekonomi. Ini kan kacau,” ujarnya.

dr. Syifa dan buku Kupas Tuntas Vaksin Covid-19. (azi)

Pandemi Covid-19 ini menurut Gus Mus adalah bentuk teguran dari Allah SWT. “Ini adalah wabah kemanusiaan. Bukan wabah agama. Bukan wabah kenegaraan. Dan bukan pula wabah kelompok,” lanjutnya.

Jadi, menurut Gus Mus, ketika bangsa ini dilanda pandemi covid-19, sebenarnya sedang diuji oleh Allah SWT, apakah nilai-nilai kemanusiaan seseorang itu masih ada atau tidak. Dan salah satu ukuran seseorang itu apakah masih manusia atau tidak, adalah saling peduli satu sama lain, saling menghargai satu sama lain, dan saling menasehati satu sama lain. “Dulu waktu pilpres kita seakan bukan manusia. Karena ada yang menyebut kecebong, ada juga yang menyebut kampret,” tambahnya.

Saat Gus Mus akan mengakhiri sambutannya, ada permintaan spontan dari dr. Syifa, agar diberi ijazah (semacam doa khusus), agar selalu diberikan perlindungan oleh Allah SWT, khususnya dilindungi dari wabah covid-19. “Saya akan beri ijazah, dimana ijazah ini adalah pemberian dari para kyai saya,” kata Gus Mus.

Ijazah dari Gus Mus yang disampaikan pada kesempatan itu ada dua: Pertama, istighfar. Kedua, membaca sholwat Nabi SAW. “Baca istighfar minimal 100 kali sehari. Dan untuk sholawat, sering-sering dibaca, saat mulut menganggur. Saya sudah mempraktekkannya. Dan saya sudah merasakan khasiatnya,” katanya. “Saya tidak akan ceritakan khasiatnya apa, nanti Anda malah tidak konsentrasi ke istighfarnya, tapi malah konsentrasi ke khasiatnya,” kata Gus Mus. (*)

Editor : chusnun hadi