RADIUS

Fri Oct 01 2021 00:14:45 GMT+0000 (UTC)

#Inspirasi

Filosofi Kopi Dalam Perspektif Islami

Ngopi berarti menikmati rezeki yang bagus (rizqan hasanan); dan statusnya jauh lebih mulia dibandingkan menikmati wine atau minuman keras yang memabukkan

Kopi dan ngopi, memiliki hikmah yang indah dalam perspektif Islam. (aladokter)

Freedae

Oleh : Dr. Rosidin, M.Pd.I

(Dosen Pascasarjana STAI Ma’had Aly Al-Hikam)


TEPAT hari ini, 1 Oktober 2021, diperingati sebagai Hari Kopi Sedunia (International Coffee Day). Di Indonesia, ‘ngopi’ sudah menjadi kearifan lokal sekaligus fenomena sosial yang jamak dijumpai di tengah masyarakat.

Kopi dan ngopi juga kerap dijadikan sebagai tema karya sastra seperti Filosofi Kopi karya Dewi Lestari yang kemudian diangkat oleh sineas menjadi salah satu film paling berpengaruh di Indonesia. Demikian halnya, novel Cinta di dalam Gelas karya Andrea Hirata, dan kitab yang membahas topik kopi dan rokok karya Kiai Ihsan Jampes dengan judul Irsyadu al-Ikhwan fi Bayani al-Hukm al-Qahwah wa al-Dhukhan yang diterjemahkan ke dalam buku Kitab Kopi dan Rokok. Kitab karya Kiai Ihsan Jampes ini mengisyaratkan bahwa kopi dapat ditelaah dari perspektif ajaran Islam.

Jika ditelaah dari perspektif Islam, kopi dan ngopi memiliki sejumlah hikmah atau filosofi berikut: Pertama, cita rasa kopi yang berbeda-beda, kendati berasal dari pohon yang sama, menunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Hikmah ini dilandasi firman Ilahi, “Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir” (Q.S. al-Ra’d [13]: 4).

Kata kunci ‘bagi kaum yang berpikir’ menginspirasi umat muslim untuk berpikir kreatif dan inovatif terkait cita rasa tanaman. Dengan kata lain, cita rasa kopi yang sudah berbeda-beda itu, semakin variatif saat disajikan dalam bentuk aneka minuman yang diracik dan diolah secara kreatif dan inovatif.

Dalam laman www.sasamecoffee.com disebutkan, kopi robusta yang rasanya pahit, lebih cocok dicampur dengan susu. Misalnya, latte, cappuccino, mochacino, vietnam drip, dan olahan kopi susu lainnya. Sedangkan kopi arabika lebih sering dinikmati secara single origin, agar dapat menikmati keberagaman varietas arabika dengan karakter rasa yang berbeda-beda di setiap daerah.

Kedua, Dalam istilah al-Qur’an, ngopi berarti menikmati rezeki yang bagus (rizqan hasanan); dan statusnya jauh lebih mulia dibandingkan menikmati wine atau minuman keras yang memabukkan (Q.S. al-Nahl [16]: 76).

Kopi tergolong rezeki yang bagus, antara lain disebabkan beragam manfaat yang diperoleh orang yang mengonsumsi kopi. Misalnya, berdasarkan penelusuran di jejaring internet, dijumpai banyak sekali artikel yang mengulas manfaat minum kopi. Mulai dari meningkatkan fungsi otak (kognitif), kapasitas kinerja fisik, memicu rasa bahagia; hingga mengurangi risiko gagal ginjal dan diabetes.

Kendati demikian, prinsip utama dalam menikmati makanan dan minuman adalah proporsional dan tidak berlebih-lebihan (israf), sebagaimana yang direkomendasikan dalam firman Ilahi, “makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (Q.S. al-A’raf [7]: 31).

Di antara efek samping orang yang berlebihan mengonsumsi kopi adalah menimbulkan masalah pencernaan dan lambung, insomnia atau kurang tidur, tidak baik bagi tulang dan gigi, sering buang air kecil, hingga kecanduan kopi yang mengurangi minat minum air putih.

Ketiga, hukum ngopi adalah mubah (boleh). Sesuai dengan rumusan Kaidah Fikih, al-ashlu fi al-asy’ya’ al-ibahah, yang berarti “hukum asal segala sesuatu adalah mubah”. Hukum ini dipertegas dalam kitab Irsyadu al-Ikhwan fi Bayani al-Hukm al-Qahwah wa al-Dhukhan karya Kiai Ihsan Jampes yang mengutip sejumlah ulama yang memperbolehkan kopi, yaitu Imam al-Ramli, Najm al-Ghazi dan Ibn Hajar al-Haitami.

Di antara argumentasi para ulama tersebut adalah kopi bisa menyegarkan dan meringankan pikiran; serta membangkitkan semangat tetap terjaga sampai waktu yang lama untuk beribadah. Di sisi lain, Syaikh ‘Ali al-Khawash menyatakan, sebagaimana dilansir dalam laman nuonline, bahwa Allah SWT menjadikan perkara mubah sebagai kesempatan istirahat bagi manusia dari rasa lelah melakukan suatu kewajiban.

Ngopi dapat merekatkan silaturrahmi, baik kualitas dan kuantitas. (spmemori)

Pandangan para ulama tersebut memberikan inspirasi terkait fungsionalisasi kopi dalam kehidupan sehari-hari. Ngopi bisa dijadikan sebagai kesempatan beristirahat dari kepenatan menunaikan tugas dan kewajiban sehari-hari. Fungsi ini tampaknya lebih mudah dipahami saat kita mengikuti pertemuan-pertemuan yang mengagendakan ‘coffee break’ sebagai waktu istirahat sembari menikmati minuman –terutama kopi– dan camilan; atau saat nongkrong di warung kopi yang murah, hingga kedai kopi yang serba mahal.

Hanya saja, agar fungsionalisasi kopi lebih maslahat duniawi-ukhrawi, umat muslim dapat mengonsumsi kopi untuk menunjang ibadah. Misalnya, Surat al-Muzzammil [73]: 1-10 memerintahkan umat muslim agar bangun malam untuk menunaikan shalat malam (qiyamul lail), memperbanyak membaca al-Qur’an, dzikir dan doa.

Dalam ayat lain, di antara tanda orang yang beriman adalah menyedikitkan tidur malam demi menunaikan ibadah, seperti shalat tahajjud (Q.S. al-Sajdah [32]: 16). Dengan mengonsumsi kopi, maka umat muslim akan lebih mudah melaksanakan qiyamul lail, tanpa terhalangi oleh kantuk yang dapat mengganggu konsentrasi ibadah.

Keempat, bisnis kopi sebagai usaha yang halal dan thayyib. Allah SWT menyeru umat muslim agar mencari nafkah yang halal dan thayyib, baik melalui jalur profesi maupun jalur pemanfaatan sumber daya alam (Q.S. al-Baqarah [2]: 267).

Dari segi hukum Islam, bisnis kopi adalah halal (mubah); sedangkan dari segi ekonomi, bisnis ekonomi memiliki prospek yang bagus. Hal ini terbukti dari pertumbuhan jumlah kedai kopi di Indonesia yang meningkat tiga kali lipat, dari 1.083 outlet di 2016 menjadi 3.000 outlet pada akhir 2019. Sedangkan nilai pasar kedai kopi di Indonesia mencapai kisaran Rp4,8 triliun pertahun.

Kelima, kopi sebagai media amal shalih. Misalnya, Rasulullah SAW menyeru umat muslim agar aktif melakukan silaturrahim (H.R. al-Bukhari) dan memuliakan tamu (H.R. al-Bukhari). Sedangkan kopi dapat dijadikan sebagai pelengkap untuk meningkatkan kualitas (kehangatan) dan kuantitas (durasi) silaturrahim maupun perjamuan tamu.

Lebih dari itu, setiap kopi yang dinikmati oleh keluarga, kerabat, sahabat, teman, relasi maupun tamu; merupakan bagian dari shadaqah yang mengalir deras pahalanya. Sejalan dengan itu, Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seorang tamu masuk ke rumah seorang mukmin, maka masuk pula bersama tamu itu seribu rahmah dan seribu berkah. Allah akan menulis untuk pemilik rumah itu pada setiap suap makanan yang dimakan oleh tamunya seperti pahala haji dan umrah” (H.R. al-Dailami). Kendati Hadis ini menggunakan redaksi ‘setiap suap makanan’, secara kontekstual dapat dimaknai ‘setiap teguk minuman’.

Editor : chusnun hadi