Ilustrasi

Ilustrasi

Warung internet atau yang biasa disingkat warnet adalah suatu tempat yang menyediakan akses internet untuk siapapun. Warnet menyediakan seperangkat komputer dan akses internet untuk disewa. Di masa kejayaannya, warnet menjadi salah satu tempat paling nyaman bagi generasi 1990-2000-an awal. Mungkin tak semua orang melewati masa ini, terutama Gen Z.

Sebelum internet bisa mudah diakses seperti hari ini, warnet dianggap semacam sekolah bagi generasi sebelumnya. Karena tak semua orang bisa mengenal pengetahuan baru dan dunia luar jika tanpa peran warnet. Di masa itu, para remaja diasuh dan dibesarkan oleh warnet dalam hal teknologi informasi.

Mereka tak diasuh oleh orang tuanya sendiri. Melalui warnet, mereka bisa mendapatkan pendidikan terkait teknologi. Warnet adalah ruang dimana dua realitas dipertemukan dalam satu tempat: digital dan sosial.

Jadi, warnet bukan hanya sekadar tempat untuk menikmati petualangan di dunia digital. Bahkan, kejayaan warnet kala itu ditandai dengan menjelmanya warnet menjadi tempat singgah. Ruang berinterkasi sosial dan menenangkan diri bagi mereka yang tak mendapatkannya di rumah.

Bagi Jamal misalnya, warnet adalah saksi bisu dari kemajuan teknologi yang masih berdampingan mesra dengan interaksi sosial konvensional. Orang-orang bisa melihat warnet sebagai tempat yang bermacam-macam. Tempat nongkrong, belajar hal baru, tempat singgah, destinasi asmara (pacaran) hingga menonton video dewasa.

“Saya beruntung pernah menghabiskan sebagian masa muda menjadi tukang jaga warnet,” kata Jamal.

Pekerjaan itu melahirkan banyak kenangan. Wajar jika merasa beruntung bisa terlibat dalam sejarah perjalanan interaksi awal manusia dengan dunia digital. Mungkin berbeda dengan yang terjadi di belahan dunia sana, Indonesia mengalami transisi kebudayaan pada saat warnet mendapatkan masa kejayaannya.

Meski tak bisa dipungkiri bahwa warnet punya sisi negatif yang bisa mengubah cara pandang penggunanya, namun itu tidak lepas dari masalah kesenjangan antar generasi. Generasi warnet lagi-lagi tak pernah diasuh oleh generasi orang tuanya agar bijak dalam menggunakan teknologi. Alhasil, dalam beberapa kasus, kebijaksanaan dalam penggunaan teknologi akan secara sendirinya tumbuh.

Bayangkan, tempat anak-anak muda sehabis sekolah saat itu adalah warnet. Lalu sebagaimana seperti yang terjadi hari ini, orang tua mereka lebih gagap mengenal teknologi dibanding anaknya. Sehingga, kemampuan berselancar di dunia digital rawan diselewengkan.

“Dulu, banyak yang ketahuan nonton film dewasa,” tutur Jamal.

Selain itu, bilik kecil warnet bisa menjadi tempat healing nya anak-anak muda. Tepat di depan komputer, mereka bisa menyanyikan lagu Avenged Sevenfold sambil menangis tersedu-sedu. Kalau suasana hati sedang baik, bermain game menjadi pilihan utama bagi sebagian besar anak muda.

Warnet, pertama kali muncul di Indonesia pada kurun 1995-an dan berkembang pesat sekitar pada tahun-tahun setelahnya. Pada tahun 1996 misalnya, Teknologi Bindo.id mencatat bahwa bisnis warnet mulai berkembang pesat. Beberapa faktor yang memicu pesatnya bisnis ini adalah harga komputer dan akses internet semakin terjangkau.

Termasuk kebutuhan masyarakat akan informasi dan komunikasi yang semakin meningkat. Jumlah warnet bisa menunjukkan pesatnya perkembangan bisnis ini pada waktu itu. Pada tahun 1997, jumlah warnet di Indonesia mencapai sekitar 1.000 unit dan meningkat pada tahun 1998 menjadi sekitar 10.000 unit.

“Saya kerja warnet itu ketika pulang sekolah SMA, sekitar tahun 1998-an lah,” kata Jamal mengenang cara dia mendapatkan uang dengan bekerja sebagai penjaga warnet di dekat tempat tinggalnya saat merantau di Malang untuk sekolah SMA.

Hanya dalam waktu setahun, jumlah warnet di Indonesia meningkat sekitar 9.000 unit. Namun, peningkatan itu tak berlangsung lama. Karena pada dekade 2000-an, warnet mengalami penurunan yang signifikan. Meski begitu, warnet telah menjadi saksi interaksi masyarakat Indonesia pada masa awal transisi kebudayaan teknologi.

Sebagai sebuah keharusan, perputaran roda perubahan akan terus bergulir dan tak pernah berhenti. Semua bentuk bisnis ada masa jaya dan tiba-tiba menghilang begitu saja. Warnet misalnya, kalau tidak berubah bentuk, pasti tergerus oleh zaman yang berubah dengan cepat.

Bagi pecinta game, sebelum era warnet ada yang namanya warung rental Play Station (PS). Warung ini lah yang digerus dan dikalahkan dengan munculnya tren warnet di Indonesia. Banyak rental PS yang tutup dimana-mana. Adapun yang bertahan tinggal yang punya modal untuk terus menyokong, atau yang lokasinya strategis.

Kembali ke warnet, perubahan kemajuan teknologi yang paling terasa adalah warung internet kecil hingga menengah sudah tidak lagi relevan di zaman yang serba mobile ini. Pandemi Covis-19 menjadi salah satu gerbang menuju fokusnya manusia pada telepon genggam untuk akses internet. Karena saat itu, siapapun tidak bisa meninggalkan rumah, hingga handphone adalah sumber hiburan utama bagi sebagian orang.

Meski masyarakat sudah bisa akses internet dari telepon yang ada di sakunya, namun sebenarnya warnet tetap tak bisa dibilang punah. Hanya saja bentuknya yang berubah seiring dengan perkembangan zaman. Misal ada yang menjelma menjadi café dengan fasilitas Wi-Fi dan jadi tempat print atau fotocopy.

Tetapi tetap saja, perubahan bentuk warnet tak bisa menghadirkan suasana seperti dulu kala. Tempat singgah sehabis sekolah, tempat mencari ketenangan bagi mereka yang sedang diterpa masalah, dan ruang aman dari segala permasalahan. Entah warnet akan terus berubah bentuk atau mati, tapi kenangannya tak akan pernah mati meski perkembangan teknologi akan terus terjadi.

Jamal bilang, dia yakin anak muda seusianya pasti punya cerita yang berbeda-beda tentang warnet. Keluh-kesahnya, suka-dukanya dan kisah asmara bagi mereka yang sering melipir untuk memadu kasih di bilik pengap warnet setempat. Kisah-kisah itu tak akan pernah pudar dalam ingatan, karena terlalu indah untuk dilupakan.*

Penulis : Al Ghozali
Editor : Rendra Saputra
Ilustrasi : Azzam
Publisher: Lazuardi Ansori