Subkultur Gyaru Jepang. (ist)

Subkultur Gyaru Jepang. (ist)

Malang, Radius – Tren Gyaru di Jepang menjadi sebuah ajang untuk menunjukkan pemberontakan gadis-gadis muda terhadap nilai budaya lama Jepang. Mereka menjadikan subkultur ini sebagai alat untuk mengekspresikan diri.

Baru-baru ini, “Gyaru” ramai diperbincangkan. Terlebih dalam platform TikTok, kata “Gyaru” ini menjadi sebuah tren yang ramai setelah booming-nya lagu “GAL Korean Version” yang digunakan sebagai musik di platform tersebut.

Challenge “Gyaru” ini mayoritas diikuti oleh konten kreator wanita. Dengan latar musik “GAL Korean Version”, mereka akan berpose di depan kamera dengan ciri khas tangan yang membentuk ‘V sign’ atau seperti angka dua beriringan dengan beat lagu tersebut.

Namun, apakah Warga Baik tahu terkait Gyaru dalam artian yang sebenarnya? Gyaru merupakan istilah dalam bahasa Jepang yang diserap dari slang bahasa Inggris, girl. Gyaru juga merupakan sebuah subkultur fashion dari Jepang yang sejatinya kurang dikenal.

Tidak seperti subkultur fashion yang telah populer di seluruh dunia, seperti Harajuku, Lolita, dan Kawaii atau Decora. Sedangkan, Gyaru lebih condong dimodelkan pada mode gaya barat yang eksentrik dan feminitas yang tinggi.

Apa Itu Gyaru?

Kata “Gyaru” dalam bahasa Jepang memiliki arti “gadis”. Orang Jepang menyebut para gadis muda yang berpenampilan tertentu dengan sebutan ini. Dalam sebuah anime, Gyaru biasa disebut dengan gal.

Fenomena Gyaru merupakan sebuah pengelompokan budaya yang digunakan untuk mendefinisikan perempuan sesuai dengan ciri-ciri tertentu. Istilah ini secara khusus disematkan kepada gadis-gadis muda berusia 10 sampai 20 tahun yang fashionable, bahkan cenderung kontroversial dalam hal pemilihan busana. Biasanya, busana yang dikenakan dipengaruhi oleh majalah mode Barat.

Tidak hanya busananya yang nyentrik, Gyaru dikenal dengan warna kulit yang cenderung coklat sawo matang. Tata rias wajah Gyaru boleh dibilang anti mainstream dengan model rambut yang dicat berwarna pirang kecoklatan mengikuti gaya para gadis-gadis Amerika.

Asal-Usul Gyaru

Sama halnya dengan Harajuku, Gyaru bukan hanya soal busana dan penampilan saja. Tren ini sudah menjadi subkultur di Negara Sakura tersebut. Umumnya budaya ini didominasi oleh sebagain besar perempuan, tetapi ada pula laki-laki yang ikut-ikutan menggunakan mode ini.

Ada banyak teori tentang dari mana sebutan “Gyaru” berasal, tetapi dua kemungkinan yang paling populer adalah dari merek fashion Amerika, yaitu Levi’s dan Wrangler. Keduanya menggunakan kata ‘Gal’ dalam iklannya tentang pakaian wanita di akhir tahun 1960-an dan awal 1970-an, yang sekaligus bertepatan dengan kebangkitan kemandirian wanita dan mode Barat.

Utamanya Gyaru berada di daerah Shibuya, Tokyo. Dimulai pada akhir tahun 1970-an, puncak tren ini terjadi pada era tahun 1990-an hingga awal 2000-an. Kala itu, fenomena budaya Gyaru ini merupakan wujud pemberontakan gadis-gadis Jepang terhadap budaya lama Jepang yang sangat normatif.

Pada awal 1990-an, gadis-gadis kota terpengaruh oleh paham materialisme ketika terjadinya krisis keuangan Jepang setelah inflasi. Pada zaman tersebut, Kogyaru atau Gyaru ini mayoritas berasal dari kelas atas yang mampu membeli pakaian dengan harga selangit.

Penampilan yang serba mewah tersebut sengaja ditonjolkan untuk memperlihatkan status dalam masyarakat. Mereka cenderung ingin menonjolkan kemampuannya dalam membeli barang-barang fashion Barat yang tentunya tidaklah murah.

Penampilan Gyaru

Gyaru Street Fashion Jepang. (ist)

Di awal kemunculannya, Gyaru menampilkan busana nyentrik dengan memodifikasi seragam sekolah mereka. Rok yang tadinya selutut diubah menjadi rok mini, mengenakan kaus kaki longgar, dan rambut yang diwarnai coklat muda.

Konon, tren Gyaru Style ini terinspirasi oleh style yang digunakan oleh seorang aktris berkebangsaan Kanada, Pamela Anderson yang membintangi serial drama aksi Amerika berjudul Baywatch. Saat itu, sosoknya menjadi trendsetter gaya Barat yang begitu intens.

Gaya tampilan Gyaru Style ini dengan ciri khas rambut pirang yang dikeriting atau bisa juga ditambah menggunakan hair extention, tidak sedikit juga yang mewarnai rambut mereka dengan bermacam warna. Kulit cokelat sawo matang juga merupakan hal ikonik dari tampilan ini.

Tidak lupa, para Gyaru menggunakan bronzer, eye liner hitam, bulu mata palsu, serta counturing pada wajah yang merupakan ciri tampilan Barat. Tidak jarang meraka menggunakan lensa kontak berwarna ataupun berdiamater besar agar membuat tampilan pupil mata terlihat lebih menonjol.

Dalam hal pakaian, Gyaru menekankan pada tampilan mode gaya Barat. Umumnya pakaian yang digunakan cenderung seksi dan banyak menggunakan aksesoris pendukung agar tampilan terlihat mewah dan eksentrik.

Substyle Gyaru

Hime Gyaru. (ist)

Seiring dengan perkembangan zaman, tepatnya sekitar tahun 2000-an, penampilan gyaru perlahan mulai berubah. Ada berbagai macam substyle di dunia Gyaru, seperti berikut.

Pertama adalah Shiro Gyaru. Gaya ini cenderung berpenampilan seperti gadis muda Jepang pada umumnya, yakni berkulit putih dengan busana mengikuti pakaian tren gadis-gadis Amerika. Gaya busana ini kemudian mengikuti perkembangan usia mereka. Semakin dewasa usianya, semakin dewasa pula gaya berpakaiannya.

Kedua, Kuro Gyaru yang pada dasarnya penampilan mereka mengikuti tren yang berkembang tahun 90-an. Ciri khasnya memakai rok mini, kaus kaki panjang dan longgar, serta riasan wajah ganguro (muka hitam). Riasan ini biasanya didapat dari alas bedak berwarna gelap atau tanning di salon.

Ketiga, Amekaji. Gaya ini berfokus pada gaya kasual Amerika dengan warna-warna cerah. Tidak lupa, dalam tampilan ini menekankan penggunaan item utama, seperti jaket bomber, sepatu tenis, dan kaos.

Keempat, Gyaru Serebu. Sebutan ini mengarah kepada selebriti. Gyaru Serebu ini menitikberatkan pada kesuksesan penampilan demi menjadi selebriti sejati. Maka dari itu, tidak banyak orang yang bisa disebut demikian, karena dalam penampilannya mereka membutuhkan merek-merek mewah dan menghadiri acara-acara kelas atas.

Selanjutnya adalah Gyaru-o atau Gyaru laki-laki. Laki-laki tersebut berpenampilan dengan gaya rambut yang tidak biasa dan umumnya berwarna cokelat. Mereka juga memadukan penampilan dengan gaya busana nyentrik sesuai dengan substyle masing-masing.

Dan terakhir adalah Hime Gyaru. Gaya ini sebenarnya tidak terlalu umum tetapi menakjubkan. Terinspirasi dari gaya gaun Rococo dan digabungkan dengan elemen Gyaru Style, mode busana ini menggunakan riasan dan aksesoris yang berlebihan, serta menekankan pada tampilan seorang putri.

Budaya Idola Gyaru

Majalah Mode Gyaru. (ist)

Pada akhir tahun 1990-an, mode Gyaru Style banyak terinspirasi dari selebriti. Maka tidak heran, saat tahun ini banyak terdapat idola, model, bahkan selebriti Gyaru. Seseorang yang terkenal adalah Namie Amuro.

Sebagai seorang model, penyanyi, aktris, dan idola, Namie Amuro banyak memberikan pengaruh terhadap tren Gyaru Style. Fashion andalannya adalah menggunakan sepatu bot, rok mini, dan model rambut Gyaru dengan warna yang lebih gelap. Puncak popularitasnya dimulai pada tahun 1990-an sampai 2000-an.

Selain Namie, ada pula Ayumi Hamasaki. Dia adalah seorang penyanyi dan idola populer yang juga membuat budaya Gyaru semakin santer di khalayak. Masih ada pula Tsubasa Masuwaka, Kumiko Funayama, yang dikenal sebagai Kumicky, dan Koda Kumi yang menjadi trendsetter idola Gyaru Style.

Gyaru Saat Ini

Gyaru di daerah Shibuya. (ist)

Meskipun populasi Gyaru sebagian besar telah menurun sejak akhir tahun 2000-an, namun Gyaru masih dapat ditemukan di daerah Tokyo. Terlebih pada SHIBUYA109 yang merupakan toko serba ada di Jepang, banyak Gyaru saling bertemu untuk berbelanja bersama.

Saat ini, para Gyaru banyak yang telah melunakkan gaya eksentriknya. Tetapi, ada pula yang tetap terus menampilkan kesan Gyaru Style yang lebih intens dan mencolok. Jika ingin melihat tren Gyaru Style di Jepang, maka datanglah ke Shibuya dan Ikebukuro, distrik khusus Kota Tokyo yang masih ramai ditemui adanya Gyaru.


Penulis: Eka Putri Pratiwi

Editor: Azizatul Nur Immah

Publisher: Prasetyani Ayu Z.