illustrasi Pengemis kaya raya, gelandangan terpinggirkan, krisis nurani, kegagalan sistem

illustrasi Pengemis kaya raya, gelandangan terpinggirkan, krisis nurani, kegagalan sistem

getradius.id - Fenomena pengemis di Indonesia memang tidak pernah habis bahan untuk diperbincangkan. Dari lampu merah sampai teras rumah, selalu saja ada tangan yang menengadah. Namun, cerita di baliknya tidak sesederhana kisah orang miskin mencari sesuap nasi. Banyak laporan dan temuan di lapangan justru menunjukkan ada “pengemis kaya raya” yang sebenarnya jauh dari gambaran sengsara. Mereka memakai strategi pura-pura, menampilkan wajah lusuh, bahkan kadang mengatur kelompok agar wilayah mengemis bisa dibagi rata.

Masalahnya, kondisi itu kini memukul telak mereka yang benar-benar gelandangan. Orang-orang yang betul-betul hidup di jalan, yang memang tidak punya rumah atau keluarga penopang, justru semakin diabaikan. Masyarakat keburu skeptis, sinis, bahkan muak melihat pengemis yang datang. Satu dua kasus pengemis gadungan membuat kepercayaan publik hancur. Akibatnya, mereka yang tulus membutuhkan jadi korban dari kebohongan orang lain.

Dari belas kasihan ke kecurigaan

Dulu, orang Indonesia terkenal gampang luluh oleh penderitaan orang lain. Melihat ibu renta berjalan membawa kaleng rombeng saja, langsung ada yang memberi. Anak kecil yang mengamen di bis pun sering mendapat receh. Namun kini, tren itu berubah. Banyak warga yang justru enggan memberi karena terlalu sering mendengar kisah pengemis yang ternyata memiliki motor, rumah permanen, bahkan deposito di bank.

Fenomena “pengemis kaya” ini pernah terbongkar berkali-kali. Media melaporkan ada pengemis yang sehari bisa mengantongi ratusan ribu, jauh melebihi gaji buruh harian. Bahkan, ada yang akhirnya ketahuan punya tabungan puluhan juta rupiah. Bayangkan, kerja kantoran bisa kalah jauh dengan profesi menengadahkan tangan.

Perubahan persepsi inilah yang membuat banyak orang sekarang berpikir dua kali. Alih-alih rasa iba, yang muncul justru rasa curiga: “Beneran susah, atau cuma akting doang?”

Gelandangan asli yang terpinggirkan

Sayangnya, dampak paling besar dari maraknya pengemis gadungan adalah pada mereka yang benar-benar papa. Gelandangan yang tidur di emperan toko, orang tua yang tak punya keluarga, anak-anak yang terlantar di jalanan kini semakin sulit mendapat uluran tangan. Mereka sering disamaratakan dengan pengemis yang hanya menjadikan belas kasihan sebagai “bisnis harian”.

Bayangkan saja, seorang kakek yang memang sakit-sakitan dan tidak punya keluarga, ketika duduk meminta bantuan, malah dianggap pura-pura. Orang-orang hanya berlalu dengan tatapan sinis. Inilah tragedi sesungguhnya: kemunafikan sebagian orang mencabut hak hidup dari mereka yang tulus membutuhkan.

Siapa yang salah?

Masyarakat? Bisa jadi. Karena terlalu mudah men-generalisasi. Pemerintah? Jelas ada andil besar. Regulasi tentang penanganan gelandangan dan pengemis (gepeng) di kota-kota besar sering hanya sebatas razia sesaat, bukan solusi jangka panjang. Dibawa ke panti sosial sebentar, lalu dilepas lagi, tanpa ada mekanisme pembinaan yang serius.

Padahal, dalam penelitian yang dimuat di Journal of Social Issues in Southeast Asia (2020), kemiskinan struktural dan keterbatasan akses pekerjaan sering kali menjadi akar dari praktik meminta-minta. Artinya, kalau negara hanya menyalahkan individu tanpa membenahi sistem, maka fenomena ini akan terus berulang.

Dari empati ke keadilan sosial

Di titik ini, publik sebetulnya tidak hanya dituntut untuk berempati, tetapi juga kritis. Memberi bantuan bukan sekadar soal belas kasihan spontan di lampu merah, tetapi juga soal memastikan siapa yang betul-betul membutuhkan. Bantuan bisa diarahkan lewat lembaga sosial, rumah singgah, atau komunitas yang kredibel. Dengan begitu, kita tidak terjebak dalam “jebakan tipu-tipu” pengemis gadungan, dan pada saat yang sama tetap menolong mereka yang benar-benar hidup di pinggir jalan.

Adil Amrullah atau yang kerap disapa Cak Dil dari Sekolah Negarawan, menegaskan:

“Kita ini sedang mengalami krisis kepercayaan. Rakyat tidak tahu lagi mana yang tulus, mana yang bohong. Di sinilah negara harus hadir. Jangan biarkan gelandangan asli mati pelan-pelan karena dicap sama dengan pengemis kaya yang berpura-pura.”

Fenomena pengemis kaya raya adalah paradoks. Di satu sisi, ada orang yang pura-pura sengsara demi meraup keuntungan. Di sisi lain, ada manusia yang betul-betul kelaparan tetapi tak lagi dipercaya. Pertanyaan besarnya: apakah kita akan terus membiarkan kebohongan segelintir orang merampas hak hidup kaum yang benar-benar miskin?

Kalau negara diam, masyarakat acuh, dan pengemis gadungan terus berjaya, maka korban terbesarnya adalah gelandangan asli. Dan ketika itu terjadi, bangsa ini bukan hanya kehilangan rasa empati, tapi juga kehilangan nurani.